Rumah maya tuk menyimpan hal-hal yang ringan dan terbuka buat siapa saja. Disini anda bisa mencari dan berbagi apa saja , ilmu, hiburan, musik, ebook dll. (Konten ini diambil dari berbagai sumber internet public domain. Jika ada keberatan, konten yang melanggar hak cipta, beritahu kami. Kami tidak akan ragu menghapusnya.
DALAM BAHASA SUNDA
Senin, 24 Oktober 2011
Rabu, 19 Oktober 2011
Mana yang Terbaik : S-Curve, CPM, atau EVM?
S-Curve yang praktis telah lama digunakan pada proyek Pemerintah maupun Swasta. Bar Chart dan turunannya yaitu CPM yang lebih akurat dijadikan persyaratan dalam mengajukan penawaran proyek, namun jarang digunakan pada pelaksanaannya. EVM (Earned Value Method) yang cukup kompleks bahkan “nyaris tak terdengar”. Lalu sebenarnya yang manakah yang harus digunakan?
Critical Path Method (CPM)
Seperti yang telah dibahas dalam tulisan sebelumnya bahwa proyek adalah unik. Memiliki karakteristik yang tidak persis sama antara proyek yang satu dengan yang lainnya. Karakteristik proyek yang mempengaruhi pertimbangan dalam menentukan alat yang baik dalam membuat atau monitoring schedule proyek adalah sebagai berikut:
- Nilai kontrak proyek
- Kompleksitas proyek
- Waktu pelaksanaan proyek
- Jenis proyek
- Kompetensi Tim proyek
- Fungsi proyek
Kita akan lihat penjelasan masing-masing jenis alat monitoring schedule untuk menentukan jenis alat monitoring yang mana yang terbaik untuk digunakan dengan mengaitkannya terhadap kondisi atau karakteristik proyek.
S-Curve (Kurva-S)
S-Curve atau Kurva S adalah suatu grafik hubungan antara waktu pelaksanaan proyek dengan nilai akumulasi progres pelaksanaan proyek mulai dari awal hingga proyek selesai. Kurva-S sudah jamak bagi pelaku proyek. Umumnya proyek menggunakan S-Curve dalam perencanaan dan monitoring schedule pelaksanaan proyek, baik pemerintah maupun swasta.
Masih belum jelas juga? Jadi begini....
S-Curve itu adalah sebuah kurva yang menyerupai huruf S. kurva itu merupakan alat kendali suatu jadwal pelaksanaan proyek pada proyek yang akan atau sedang dijalankan. Proyek yang akan dikerjakan tentunya harus mempunyai jadwal-jadwal pengerjaan atau semacam target tiap minggu perbulannya. Target tiap minggu itu diberikan bobot setiap item pekerjaan yang sesuai dengan bobot kerjanya. Bobot-bobot itu (dalam persen) dijumlahkan setiap item pekerjaan kolom per-minggu (bingung yahh..). nah setelah itu, diakumulasikan jumlah perkolom itu sehingga mencapai angka 100%. Akumulasi perminggu itulah yang selanjutnya diplot menjadi grafik kurva S. ini namanya kuva S standar. Untuk mengetahui apakah suatu proyek sesuai dengan jadwal yang telah dibuat, maka buatlah kurva S sesuai dengan pengerjaan actual di lapangan.
S-Curve itu adalah sebuah kurva yang menyerupai huruf S. kurva itu merupakan alat kendali suatu jadwal pelaksanaan proyek pada proyek yang akan atau sedang dijalankan. Proyek yang akan dikerjakan tentunya harus mempunyai jadwal-jadwal pengerjaan atau semacam target tiap minggu perbulannya. Target tiap minggu itu diberikan bobot setiap item pekerjaan yang sesuai dengan bobot kerjanya. Bobot-bobot itu (dalam persen) dijumlahkan setiap item pekerjaan kolom per-minggu (bingung yahh..). nah setelah itu, diakumulasikan jumlah perkolom itu sehingga mencapai angka 100%. Akumulasi perminggu itulah yang selanjutnya diplot menjadi grafik kurva S. ini namanya kuva S standar. Untuk mengetahui apakah suatu proyek sesuai dengan jadwal yang telah dibuat, maka buatlah kurva S sesuai dengan pengerjaan actual di lapangan.
Critical Path Method (CPM)
CPM merupakan suatu metode dalam mengidentifikasi jalur atau item pekerjaan yang kritis. Untuk membuatnya dapat secara manual matematis. Cukup rumit apalagi item pekerjaan yang banyak dan kompleks. Namun saat ini banyak software yang menyediakan fasilitas untuk mendapatkan CPM.
CPM merupakan produk turunan dari Bar Chart. CPM lebih jarang digunakan dalam proyek dibandingkan dengan Kurva-S. Pada kenyataannya banyak pelaku proyek (Kontraktor, Pengawas, dan Owner) belum familiar dengan alat yang satu ini kecuali untuk yang sudah memiliki pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang memadai. Namun jumlahnya masih belum seberapa.
Penggunaan CPM baru sebatas syarat yang harus diajukan oleh kontraktor dalam lelang. Setelah itu dalam pelaksanaannya, hampir tidak pernah dipakai. Seharusnya CPM yang dibuat pada saat tender, menjadi baseline dalam monitoring pelaksanaan proyek.
Berdasarkan pengalaman di proyek, metode CPM sebenarnya sangat powerfull dalam membantu proyek keluar dari masalah keterlambatan. Asal perencanaan awalnya dibuat cukup memadai. Berikut diberikan contoh CPM di proyek:
Contoh sederhana CPM
CPM mengilustrasikan terlambat atau tidak proyek dalam bentuk waktu akhir pelaksanaan proyek. CPM berisi uraian pekerjaan yang berada di jalur kritis. Pekerjaan-pekerjaan yang berada di jalur kritis harus dijaga oleh Tim Proyek. Start-Finish-Duration item pekerjaan yang berada pada jalur kritis harus tidak boleh meleset karena akan menyebabkan waktu pelaksanaan akan mundur atau terlambat.
Earned Value Method (EVM)
Konsep earned value digunakan sebagai alat ukur kinerja yang mengintegrasikan antara aspek biaya dan aspek waktu. Penggunaannya di Indonesia “nyaris tak terdengar”.
Penggunaan konsep earned value dalam penilaian kinerja proyek dijelaskan melalui Gambar di bawah ini. Beberapa istilah yang terkait dengan penilaian ini adalah Cost Variance, Schedule Variance, Cost Performance Index, Schedule Performance Index, Estimate at Completion, dan Variance at Completion.
Walaupun konsep earned value terlihat sederhana, namun implementasinya dalam pengelolaan proyek tidaklah mudah karena harus didukung oleh sistem manajemen yang mampu menyediakan input data yang lengkap dalam perhitungan kinerja proyek. Bila kinerja proyek buruk, sistem akan mampu menelusuri bagian mana yang bermasalah yang menyebabkan pembengkakan biaya dan terjadinya keterlambatan pelaksanaan proyek. Terdapat 10 kriteria bagi terselenggaranya pengelolaan proyek yang berdasarkan pada konsep earned value, sebagai berikut:
- Komitmen manajemen
- Menetapkan lingkup proyek dengan work breakdown structure (WBS).
- Menciptakan management control cells (cost account).
- Menetapkan tanggung jawab fungsional untuk setiap bagian terkecil dari manajemen proyek (project’s management control cells).
- Membuat earned value baseline..
- Penggunaan proses formal penjadwalan proyek
- Pengelolaan biaya tidak langsung (indirect cost)
- Secara periodik, mengestimasi biaya penyelesaian proyek
- Pelaporan status proyek
- Menyusun historical database
Pakai yang Mana?
Berdasarkan penjelasan mengenai masing-masing alat kendali schedule dan melihat karakteristik proyek, dapat disusun suatu tabel rekomendasi alat kontrol yang mana yang sesuai dengan berbagai kondisi proyek. Pemakaian tidak terbatas harus menggunakan salah satu. Jika memang diperlukan dapat menggunakan lebih dari satu atau malah pakai ketiga-tiganya. Semua tergantung dari kondisi proyek yang dilaksanakan.
Pemilihan alat yang digunakan juga harus memperhatikan situasi saat proyek tengah berjalan. Jadi tidak hanya ditentukan pada saat proyek belum dilaksanakan. Artinya, bisa saja proyek yang cukup longgar waktu pelaksanaannya dengan nilai kontrak yang kecil dan kompleksitasnya rendah dimana awalnya hanya ditentukan menggunakan S-Curve dapat bertambah alat kendalinya menjadi kombinasi S-Curve dan CPM. Ini situasional. Pahami manfaat masing-masing alat kendali.
Berikut disampaikan tabel rekomendasi yang dimaksud yang dibuat berdasarkan pengalaman dan beberapa referensi yang terkait dengan pembahasan di atas:
| No | Karakteristik Proyek | S-Curve | CPM | EVM |
| A | Nilai Kontrak | |||
| Kecil | √ | |||
| Sedang | √ | √ | ||
| Besar | √ | √ | ||
| B | Kompleksitas Proyek | |||
| Kecil | √ | |||
| Sedang | √ | √ | ||
| Tinggi | √ | √ | ||
| C | Waktu Pelaksanaan Proyek | |||
| Singkat | √ | |||
| Sedang | √ | √ | ||
| Panjang | √ | √ | ||
| D | Jenis Proyek | |||
| Pemerintah | √ | |||
| Swasta | √ | √ | ||
| International | √ | √ | √ | |
| Non-Konstruksi | √ | |||
| E | Kompetensi Pelaku Proyek | |||
| Kurang | √ | |||
| Sedang | √ | √ | ||
| Tinggi | √ | √ |
Contoh:
Jika proyek yang dilaksanakan memiliki karakteristik sebagai berikut:
Nilai kontrak kecil ( Rp. 20 M), kompleksitas sedang (Banyak item pekerjaan termasuk yang tidak standart dan keterkaitan antar pekerjaan cukup banyak), waktu pelaksanaan singkat (4 bulan), Jenis Proyek adalah proyek pemerintah, dan kompetensi pelaku proyek dianggap sedang. Maka alat kontrol schedule yang direkomendasikan adalah:
- Nilai kontrak kecil (S-Curve)
- Kompleksitas tinggi (S-Curve dan CPM)
- Waktu pelaksanaan singkat (CPM)
- Proyek pemerintah (S-Curve)
- Kompetensi sedang (S-Curve dan CPM)
Berdasarkan kondisi di atas, maka dapat disarankan untuk menggunakan S-Curve sebagai alat kendali formal dalam frekuensi mingguan, namun dalam kesehariannya harus menggunakan CPM untuk kendali yang lebih teliti mengingat waktu pelaksanaan yang singkat.
Label:
Manajemen
Senin, 17 Oktober 2011
Jumat, 07 Oktober 2011
MENGENAL JENIS PLASTIK
Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida.
Para ahli di dunia telah sepakat membuat kode untuk mengenali bahan-bahan pembuat plastik. Tujuannya tentu untuk memudahkan konsumen mengenali bahaya dan keamanan wadah yang terbuat dari plastik. Kode ini berupa angka yang biasanya ditempatkan di bokong kemasan dalam tanda berbentuk segitiga.
Bagaimana membaca kode itu?
Segitiga menunjukkan bahwa kemasan plastik tersebut adalah produk daur ulang. Lalu, kode angka pada segitiga itu saling berkaitan dengan huruf yang ada di bawahnya. Angka dan huruf ini menunjukkan jenis plastik penyusunnya. Hingga saat ini, ada tujuh kode pada kemasan plastik yang biasa digunakan:
#1. PETE atau PET
Artinya plastik tersebut tersusun dari polyethylene terephthalate. Kemasan dengan angka ini berarti mengandung 30% PET. Biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Botol-botol dengan bahan #1 dan #2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Bahan ini juga tidak balk untuk menyimpan makanan serta minuman panas, karena akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol bermigrasi ke makanan atau minuman. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.
#2. HDPE
Bahan kemasan plastik ini tersusun oleh high sensity polyethylene (HDPE). Bahan baku plastik ini aman karena tidak bereaksi terhadap makanan atau minuman. Bahan ini lebih kuat, keras, buram, dan lebih tahan terhadap suhu tinggi sehingga biasa dipakai pada botol susu berwama putih susu, tupperware, galon air minum, dan kursi lipat.
Meski begitu, kemasan ini juga tidak untuk dipakai berulangkali. Sebab senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu dan itu berbahaya bagi kesehatan kita.
#3. V atau PVC
Polyvinyl chloride adalah plastik yang paling sulit didaur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. Kandungan DEHA mudah bermigrasi pada suhu 15 derajat celcius. Bahan ini berbahaya dan sulit mengalami daur ulang.
PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
#4. LDPE
Bahan ini terbuat dari low density polyethylene yang terbuat dari minyak bumi. Sifatnya kuat, agak tembus cahaya, fleksibel, dan permukaannya agak berlemak. Pada suhu di bawah 60 derajat celcius, sangat resisten terhadap senyawa kimia. Meski punya daya proteksi terhadap uap, air baik, akan tetapi kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen.
Barang dengan kode #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan dan juga dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat.
#5. PP
Kemasan ini terbuat dari polypropylene yang merupakan pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi.
Biasa ditemukan pada botol transparan tapi tidak terlalu jernih atau berawan. Plastik jenis ini berkarakter lebih kuat, ringan, dengan daya tembus uap yang rendah. Makanya plastik jenis ini aman untuk kemasan makanan dan minuman, juga tahan terhadap lemak dan stabil terhadap suhu tinggi.
Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.
#6. PS
Ini adalah menandakan kemasan ini terbuat dari polystyrene (PS) atau biasa disebut polimer aromatik. Saat bertemu dengan makanan atau minuman, bahan ini dapat mengeluarkan bahan styrene. Bahan ini harus dihindari karena berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, pertumbuhan dan sistem saraf.
Banyak dipakai dalam produk-produk elektronik sebagai casing, kabinet dan komponen-komponen lainya. Peralatan rumah tangga yang terbuat dari polistirena, a.l: sapu, sisir, baskom, gantungan baju, ember.
#7. Other
Artinya bahan ini tersusun selain dari enam bahan plastik yang disebutkan di atas. Kandungannya antara lain styrene acrylonitrile (SAN), acrylonitrile butadiene styrene (ABS), polycarbonate (PC) dan nylon.
Kandungan SAN biasa terdapat pada tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat-alat rumah tangga, komputer, alat-alat elektronik, dan plastik kemasan.
Kandungan ABS biasa untuk bahan mainan lego dan pipa. SAN dan ABS memiliki resistensi tinggi terhadap reaksi kimia, kuat, dan tingkat kekerasannya dapat ditingkatkan tapi aman.
Adapun PC biasanya ada pada botol susu bayi, gelas anak batita, botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula. Kandungan PC berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas.
Masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia . Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita.
Pada akhirnya. Hindari penggunaan plastik apapun di Microwave. Gunakan bahan keramik, gelas atau pyrex sebagai gantinya.
Para ahli di dunia telah sepakat membuat kode untuk mengenali bahan-bahan pembuat plastik. Tujuannya tentu untuk memudahkan konsumen mengenali bahaya dan keamanan wadah yang terbuat dari plastik. Kode ini berupa angka yang biasanya ditempatkan di bokong kemasan dalam tanda berbentuk segitiga.
Bagaimana membaca kode itu?
Segitiga menunjukkan bahwa kemasan plastik tersebut adalah produk daur ulang. Lalu, kode angka pada segitiga itu saling berkaitan dengan huruf yang ada di bawahnya. Angka dan huruf ini menunjukkan jenis plastik penyusunnya. Hingga saat ini, ada tujuh kode pada kemasan plastik yang biasa digunakan:
#1. PETE atau PET
Artinya plastik tersebut tersusun dari polyethylene terephthalate. Kemasan dengan angka ini berarti mengandung 30% PET. Biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Botol-botol dengan bahan #1 dan #2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Bahan ini juga tidak balk untuk menyimpan makanan serta minuman panas, karena akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol bermigrasi ke makanan atau minuman. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.
#2. HDPE
Bahan kemasan plastik ini tersusun oleh high sensity polyethylene (HDPE). Bahan baku plastik ini aman karena tidak bereaksi terhadap makanan atau minuman. Bahan ini lebih kuat, keras, buram, dan lebih tahan terhadap suhu tinggi sehingga biasa dipakai pada botol susu berwama putih susu, tupperware, galon air minum, dan kursi lipat.
Meski begitu, kemasan ini juga tidak untuk dipakai berulangkali. Sebab senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu dan itu berbahaya bagi kesehatan kita.
#3. V atau PVC
Polyvinyl chloride adalah plastik yang paling sulit didaur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. Kandungan DEHA mudah bermigrasi pada suhu 15 derajat celcius. Bahan ini berbahaya dan sulit mengalami daur ulang.
PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
#4. LDPE
Bahan ini terbuat dari low density polyethylene yang terbuat dari minyak bumi. Sifatnya kuat, agak tembus cahaya, fleksibel, dan permukaannya agak berlemak. Pada suhu di bawah 60 derajat celcius, sangat resisten terhadap senyawa kimia. Meski punya daya proteksi terhadap uap, air baik, akan tetapi kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen.
Barang dengan kode #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan dan juga dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat.
#5. PP
Kemasan ini terbuat dari polypropylene yang merupakan pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi.
Biasa ditemukan pada botol transparan tapi tidak terlalu jernih atau berawan. Plastik jenis ini berkarakter lebih kuat, ringan, dengan daya tembus uap yang rendah. Makanya plastik jenis ini aman untuk kemasan makanan dan minuman, juga tahan terhadap lemak dan stabil terhadap suhu tinggi.
Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.
#6. PS
Ini adalah menandakan kemasan ini terbuat dari polystyrene (PS) atau biasa disebut polimer aromatik. Saat bertemu dengan makanan atau minuman, bahan ini dapat mengeluarkan bahan styrene. Bahan ini harus dihindari karena berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, pertumbuhan dan sistem saraf.
Banyak dipakai dalam produk-produk elektronik sebagai casing, kabinet dan komponen-komponen lainya. Peralatan rumah tangga yang terbuat dari polistirena, a.l: sapu, sisir, baskom, gantungan baju, ember.
#7. Other
Artinya bahan ini tersusun selain dari enam bahan plastik yang disebutkan di atas. Kandungannya antara lain styrene acrylonitrile (SAN), acrylonitrile butadiene styrene (ABS), polycarbonate (PC) dan nylon.
Kandungan SAN biasa terdapat pada tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat-alat rumah tangga, komputer, alat-alat elektronik, dan plastik kemasan.
Kandungan ABS biasa untuk bahan mainan lego dan pipa. SAN dan ABS memiliki resistensi tinggi terhadap reaksi kimia, kuat, dan tingkat kekerasannya dapat ditingkatkan tapi aman.
Adapun PC biasanya ada pada botol susu bayi, gelas anak batita, botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula. Kandungan PC berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas.
Masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia . Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita.
Pada akhirnya. Hindari penggunaan plastik apapun di Microwave. Gunakan bahan keramik, gelas atau pyrex sebagai gantinya.
JENIS PLASTIK BERDASARKAN NOMOR
![]() #1. PETE/PET | PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik tembus pandang/transparan seperti botol air mineral, botol minuman, botol jus, botol minyak goreng, botol kecap, botol sambal, botol obat, dan botol kosmetik dan hampir semua botol minuman lainnya. Untuk pertekstilan, PET digunakan untuk bahan serat sintetis atau lebih dikenal dengan polyester PETE/PET direkomendasikan HANYA UNTUK SEKALI PAKAI. Penggunaan berulang kali terutama pada kondisi panas akan menyebabkan melelehnya lapisan polimer dan keluarnya zat karsinogenik dari bahan plastik tersebut, sehingga dapat menyebabkan kanker untuk penggunaan jangka panjang. |
![]() #2. HDPE | HDPE (high density polyethylene) memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. HDPE biasa dipakai untuk botol kosmestik, botol obat, botol minuman, botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat, dan jerigen pelumas dan lain-lain. Walaupun demikian HDPE hanya direkomendasikan untuk sekali pakai, karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu. Bahan HDPE bila ditekan tidak kembali ke bentuk semula. |
![]() #3 PVC | PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Jenis plastik PVC ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), untuk mainan, selang, pipa bangunan, taplak meja plastik, botol kecap, botol sambal dan botol sampo PVC mengandung DEHA yang berbahaya bagi kesehatan. Makanan yang dikemas dengan plastik berbahan dapat terkontaminasi karena DEHA lumer pada suhu -15oC |
![]() #4. LDPE | LDPE (low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic/dibuat dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek. LDPE dipakai untuk tutup plastik, kantong/tas kresek dan plastik tipis lainnya. Walaupun baik untuk tempat makanan, barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan. Selain itu pada suhu di bawah 60oC sangat resisten terhadap senyawa kimia. |
![]() #5. PP | Jenis PP (polypropylene) ini adalah pilihan bahan plastik terbaik, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, tutup botol, cup plastik, mainan anak, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Bahan yang terbuat dari PP bila ditekan akan kembali ke bentuk semula. |
![]() #6 PS | PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai seperti sendok, garpu gelas, dan lain-lain. Polystyrene dapat mengeluarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan ini harus dihindari, karena berbahaya untuk kesehatan, selain itu bahan ini sulit didaur ulang. Banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China. |
![]() #7. OTHER | Untuk jenis plastik 7 Other ini ada 4 jenis, yaitu : SAN (styrene acrylonitrile), ABS (acrylonitrile butadiene styrene), PC (polycarbonate), dan Nylon. SAN dan ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu, kekuatan, kekakuan, dan tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan sehingga merupakan salah satu bahan plastik yang sangat baik untuk digunakan dalam kemasan makanan ataupun minuman. Biasanya terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi, sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa. PC atau Polycarbonate dapat ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula. Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berbahaya bagi kesehatan sehingga dianjurkan untuk tidak digunakan sebagai tempat makanan ataupun minuman . Ironisnya banyak botol susu yang terbuat dari PC dan sangat mungkin mengalami proses pemanasan untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas. |
Sumber:http://mastermesin.com
Label:
Material
Kamis, 06 Oktober 2011
ALLOY (LOGAM CAMPURAN) STEEL / BAJA
Berikut ini adalah panjelasan singkat padat mengenai alloy steel atau logam campuran baja. Silakan dibuka aja Alloy Steel
Sumber: http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/52a8232fd496fbc195d36b27a663eaa6d5503b89.pdf
Sumber: http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/52a8232fd496fbc195d36b27a663eaa6d5503b89.pdf
Rabu, 05 Oktober 2011
LALAGUAN JEUNG KAULINAN + GURIT MANG KOKO
Lalaguan Barudak
1. Ucang ucang angge
mulung muncang ka parangge
digogog ku anjing gede
anjing gede nu Pa Lebe
ari gog gog cungungung
2. Trang trang kolentrang
si londok paeh nundutan
tikusruk kana durukan
mulung muncang ka parangge
digogog ku anjing gede
anjing gede nu Pa Lebe
ari gog gog cungungung
2. Trang trang kolentrang
si londok paeh nundutan
tikusruk kana durukan
mesat gobang kabuyutan
3. Tongtolang nangka
kawinan bapa
poe salasa
teu beja-beja
aduh aduh si bapa
teungteuingeun ka ema
bapa mah suka suka
jeuh nu ngora
4. Yu batur urang ulin ka Cibadak
ah embung sieuna badak nu kamari
geus euweuh geus dibedil ku si Jendil
Ndil ndilong si Jending dirawu kelong
5. Perepet jengkol jajahean
kadempet konxxx jejeretean
6. Pa Deong Pa Deong
pangmukakeun lawang angin
7. Cing cangkeling
manuk cingkleung cindeten
plos ka kolong
bapa Satar buleneng
8. Tokecang tokecang
malik pendil tosblong
angeun kacang angeun kacang
sapariuk kosong
9. Aya hiji kurung
pinuh ku japati
japati kaluar
disada uok uokan
Alim karamana
alim ka ibuna
hoyong kaputrana
nu centik bulu socana
10. Colenak beuleum peuyeum digulaan
awas bom batok (2x)
rebu rebu rada nyentok (2x)
leumpangna dicentok centok (2x)
sieun nincak tai kotok
11. Blung blong
tampelet tampa gelom
lalamis bulu maung
cerentel cantel
pakuong doblus
12. Abdi teh ayeuna
gaduh hiji boneka
teu kinten saena
sareng lucuna
Ku abdi dierokan
erokna sae pisan
sumangga tingali
boneka abdi
3. Tongtolang nangka
kawinan bapa
poe salasa
teu beja-beja
aduh aduh si bapa
teungteuingeun ka ema
bapa mah suka suka
jeuh nu ngora
4. Yu batur urang ulin ka Cibadak
ah embung sieuna badak nu kamari
geus euweuh geus dibedil ku si Jendil
Ndil ndilong si Jending dirawu kelong
5. Perepet jengkol jajahean
kadempet konxxx jejeretean
6. Pa Deong Pa Deong
pangmukakeun lawang angin
7. Cing cangkeling
manuk cingkleung cindeten
plos ka kolong
bapa Satar buleneng
8. Tokecang tokecang
malik pendil tosblong
angeun kacang angeun kacang
sapariuk kosong
9. Aya hiji kurung
pinuh ku japati
japati kaluar
disada uok uokan
Alim karamana
alim ka ibuna
hoyong kaputrana
nu centik bulu socana
10. Colenak beuleum peuyeum digulaan
awas bom batok (2x)
rebu rebu rada nyentok (2x)
leumpangna dicentok centok (2x)
sieun nincak tai kotok
11. Blung blong
tampelet tampa gelom
lalamis bulu maung
cerentel cantel
pakuong doblus
12. Abdi teh ayeuna
gaduh hiji boneka
teu kinten saena
sareng lucuna
Ku abdi dierokan
erokna sae pisan
sumangga tingali
boneka abdi
13.Patani
Leumpang gagancangan, muru pagawean
Ngagedig leumpang patani
Paculna dipanggul, bari udud ngebul
Mapay jalan nu sasari
Datang-datang gecruk macul
Ngolah sawah ambeh cukul
Bapa tani jongjon, ngolah sawah kebon
ngadekul ngagarap hanca
kuat kahujanan, kuat kapanasan
tulaten ngurus pakaya
bapa tani ahli bakti
babakti ka lemah cai
Leumpang gagancangan, muru pagawean
Ngagedig leumpang patani
Paculna dipanggul, bari udud ngebul
Mapay jalan nu sasari
Datang-datang gecruk macul
Ngolah sawah ambeh cukul
Bapa tani jongjon, ngolah sawah kebon
ngadekul ngagarap hanca
kuat kahujanan, kuat kapanasan
tulaten ngurus pakaya
bapa tani ahli bakti
babakti ka lemah cai
Mun pareng abdi nincak dewasa
Bade ngabantu rukun tatangga
Gotong royong tur sabilulungan
Trong-trong-trong sora kohkol ngelingan
Mun abdi pareng nincak dewasa
Haying laksana jadi tentara
Ngusir musuh nu rek niat jail
Dor dor dor musuh paeh dibedil
Mun abdi pareng jadi nu kaya
Moal nyaah ka dunya barana
Pakir miskin nu katalangsara
Sok sok sok rek dibagi walatra
Kaulinan
1. Ambila-ambilan
Ambil-ambilan turuktuk hayam samantu
saha nu di ambil
kami mah budak pahatu
purah nutu purah ngejo
purah ngasakan baligo
purah tunggu bale gede
nyerieun sukuna kacugak ku kaliage
aya ubarna urat gunting sampurage
tiguling nyocolan dage.
2.Cingciripit
Cingciripit
tulang bajing kacapit
kacapit ku bulu pare
bulu pare seuseukeutna
jol Pa Dalang
mawa wayang jrek-jrek nong.....
3.Lalandakan
Landak landak sonari
kop cau kop tiwu
hakaneun sia janari
bekel miang ka batawi
kop jurig jarian
kop jurig tangkod
kop jurig pacilingan
kop jurig onom......
4.Oray-orayan
Oray orayan
luar leor mapay sawah
tong ka sawah
parena keur sedeng beukah
Oray-orayan
laur leor mapay leuwi
tang ka leuwi
di leuwi loba nu mandi
Oray-orayan
oray naon, orya bungka, bungka naon, bungka laut
laut naon, laut dipa, dipa naon,...dipandeuriiiii...
Ambil-ambilan turuktuk hayam samantu
saha nu di ambil
kami mah budak pahatu
purah nutu purah ngejo
purah ngasakan baligo
purah tunggu bale gede
nyerieun sukuna kacugak ku kaliage
aya ubarna urat gunting sampurage
tiguling nyocolan dage.
2.Cingciripit
Cingciripit
tulang bajing kacapit
kacapit ku bulu pare
bulu pare seuseukeutna
jol Pa Dalang
mawa wayang jrek-jrek nong.....
3.Lalandakan
Landak landak sonari
kop cau kop tiwu
hakaneun sia janari
bekel miang ka batawi
kop jurig jarian
kop jurig tangkod
kop jurig pacilingan
kop jurig onom......
4.Oray-orayan
Oray orayan
luar leor mapay sawah
tong ka sawah
parena keur sedeng beukah
Oray-orayan
laur leor mapay leuwi
tang ka leuwi
di leuwi loba nu mandi
Oray-orayan
oray naon, orya bungka, bungka naon, bungka laut
laut naon, laut dipa, dipa naon,...dipandeuriiiii...
5. Tat tit tut
daun kanyere (kaliki)
saha nu hitut budak awewe (lalaki)
dibawa kasaung butut
balikna ngaburusut
daun kanyere (kaliki)
saha nu hitut budak awewe (lalaki)
dibawa kasaung butut
balikna ngaburusut
Gurit Mang Koko
Leumpang gagancangan, muru pagawean
Ngagedig leumpang patani
Paculna dipanggul, bari udud ngebul
Mapay jalan nu sasari
Datang-datang gecruk macul
Ngolah sawah ambeh cukul
Bapa tani jongjon, ngolah sawah kebon
ngadekul ngagarap hanca
kuat kahujanan, kuat kapanasan
tulaten ngurus pakaya
bapa tani ahli bakti
babakti ka lemah cai
___________________________________________________________________________________________________
Nanggerang – Nanggorék (Kakawihan Barudak Baheula)
Yu batur urang ulin ka Nanggerang
ah embung sieun lila teuing beurang
keun atuh ambéh umur urang panjang
nu panjang Nini Aki Balangantrang
Leuleui leui leuleu leuleuyang aya mojang geulis pisan
Yu batur urang ulin ka Nanggorék
ah embung Nanggorék mah lila poék
keun atuh ambéh seubeuh ngélékéték
lékéték embung sieun bareuh kélék
Leuleuileuyang aya bujang teu
ah embung sieun lila teuing beurang
keun atuh ambéh umur urang panjang
nu panjang Nini Aki Balangantrang
Leuleui leui leuleu leuleuyang aya mojang geulis pisan
Yu batur urang ulin ka Nanggorék
ah embung Nanggorék mah lila poék
keun atuh ambéh seubeuh ngélékéték
lékéték embung sieun bareuh kélék
Leuleuileuyang aya bujang teu
uyahan
___________________________________________________________________________________________________
Balap Lumpat
Balap lumpat patarik-tarik lumpatna
Balap lumpat paheula-heula tepina
Hiji dua barudak sadia
Tilu barenglumpat paheula
Lumpat tarik bebeakan
Muru kalang pameunangan
Lumpat tarik meakkeun kabeh tanaga
Embung kasor haying datang pangheulana
Lumpat tarik tangtuna sok lempoh
Silih susul ambekan hah-heh-hoh
Nicak kalang pameunangan surakna ayeuh-ayeuhan
Balap lumpat papada hayang tiheula
Balap lumpat museurkeun kabeh tanaga
Lumpat cape beakkeun tanaga
Lesu ngaclek nyusul teu kaduga
Lumpat nyisi dodongkoan
Ku baturna dikeprokan
___________________________________________________________________________________________________
Gumbira
Rasa guligah rapot alus angkana
Seuri gumbira ha ha ha ha
Seubeuh pamuji irung ge asa kembung
Igel-igelan pak pong pak pong gung
Rasa guligah itungan bener kabeh
Seuri jeung surak, heup heup heup horseh
Waktu pakanci ulin bareng ngalabring
Kakarawihan, during duraring
___________________________________________________________________________________________________
Niron Tentara
Ngabaris beres niron tentara
Terus maju jalan tu dwa tu dwa
Leumpang gandang dangah gagah
Baris bari ngatur lengkah
Nyorendang bedil niron tentara
Belok kanan kiri tu dwa tu dwa
Ngerab-ngerab sang dwi warna
Siap maju bitotama
Leumpang dipirig ku tatamburan
Keupatna diatur tu dwa tu dwa
Lencang kanan lencang kiri
Terus maju banting kaki
___________________________________________________________________________________________________
Pahlawan (Karatagan Pahlawan)
Teu honceang sumoreang
Tekadna pahlawan bangsa
Cadu mundur pantrang mulang
Mun maksud tacan laksana
Berjuang keur lemah cai
Lali rabi tur tegang pati
Taya basa menta pamulang tarima
Iklas rido keur korban merdeka.
___________________________________________________________________________________________________
Hayam jago
Kongkorongok Si Jago
Kukuruyuk Si pelung
Rebun-rebun geus nyaring ngajak carincing
Ngabar sora jeung baturna
Raong kongkorongok bari papacok
___________________________________________________________________________________________________
Ngayuh Hujan
Hujan turun tutumplukan
Kuwung-kuwung narembongan
Anu hejo anu kayas
Matak kelar matak waas
Cur hujan geura breg turunsing rata
Pek siram tatanen masing walatra
Hujan geura turun deui
Supaya maseuhan bumi
Bumi tempat pepelakan
Sangkan timbul karaharjaan
Cur hujan geura breg turun sing rata
Pek siram tatanen masing walatra
Hujan turun tutumplukan
Rek nulungan pepelakan
Nu keur meunang kasusahan
Rek laju kahalodoan
Cur hujan geura breg turun sing rata
Pek siram tatanen masing walatra
___________________________________________________________________________________________________
Lalamunan
Mun pareng abdi nincak dewasa
Bade ngabantu rukun tatangga
Gotong royong tur sabilulungan
Trong-trong-trong sora kohkol ngelingan
Mun abdi pareng nincak dewasa
Haying laksana jadi tentara
Ngusir musuh nu rek niat jail
Dor dor dor musuh paeh dibedil
Mun abdi pareng jadi nu kaya
Moal nyaah ka dunya barana
Pakir miskin nu katalangsara
Sok sok sok rek dibagi walatra
___________________________________________________________________________________________________
Layung
Beureum koneng pulas langit
Tingarudat siga gambar
Alam endah leuh mindah rupa
Awor jeung warnaning kembang di buruan
Hayu batur hayu batur
Buruan geus ngadagoan
Urang ulin yu gogonjakan
suka seuri galumbira tetembangan
____________________________________________________________________________________________________
Bandung
Bandung…Bandung
Bandung nelah kota kembang
Bandung…Bandung
Sasakala Sangkuriang
Dilingkung gunung heurin ku tangtung
Poseur kota nu mulya parahiyangan
Bandung…Bandung
Pada muru dijarugjugan
Bandung…Bandung
Tingrunggunuk nyanding gunung
Bandung…Bandung
Dipasieun Cikapundung
Di Bandung munpung, jalma ti kampong
Ngadon reureuh di kota nyinglar kabinung
Bandung…Bandung pangbeberah nu ngadon nguyung
____________________________________________________________________________________________________
Tumpak Beca
Tumpak beca beca
Jalan anca anca
Suka ria galumbira
Tumpak beca bari gogonjakan
Calikna bari lalagdayan
Darmawisata kukurilingan
Niron anu numpak mobil sedan
Jalanna muter kukulinceran
Itung-itung pelesiran
Beca beca beca
Nawar beca jeung pilihan
Sangkan cukup ku tiluan
Angin leutik raos ngahiliwir
Nebak ka nu keur pelesir
Beca beca beca
Jalanna hayang nguriling
Mayarna tong mahal teuing
Tumpak beca beca
Jalan anca anca
Suka suka ria galumbira
___________________________________________________________________________________________________
Ulin di Buruan
A…….a a a a a ha ha ha galumbira
I………i i i i i i hi hi hi suka seuri
Ulin di buruan ulah sok silih heureuyan
Ulin di buruan ulah sok silih poyokan
Ulin di buruan ulah sok kamalinaan
Lamun kaleuwihan urang nu rugi sorangan
___________________________________________________________________________________________________
Anggrek Japati
Angkrék japati na cangkring keur karembangan
sisi wahangan barodas
kareta api geus datang sinyar geus muka
reg di stoplas Cibodas
gupay-gupay anaking
gupay-gupay digupaykeun ku manéhna
reumbay-reumbay anaking
reumbayna nginjeum cipanon ti manehna.
___________________________________________________________________________________________________
[edit] Angin Priangan
Seungit angin priangan
ngusapan embun-embunan
duh, embun-embunan
hawar-hawar rerendahan ngahariring
ayun ambing, ayun ambing.
Seungit angin kahyangan
sumerep na lelembutan
duh, na lembutan
hawar-hawar rerendahan ngahariring
éling-éling, mangka éling.
Dengkleung déngdék
dengkleung déngdék sisi lamping
anu déwék, enya anu kuring
tanah wasiat, tanah duriat
anu matak tibelat nya rarasaan.
Dengkleung déngdék
dengkleung déngdék sisi lamping
anu déwék, enya anu kuring
tanah katresna jati sarakan
anu tetep nyarengan nya lelembutan.
___________________________________________________________________________________________________[edit] Bulan Langlayang Peuting
[Bulan téh langlayangan peuting
nu ditatar dipulut ku tali gaib
entong salempang mun kuring miang
ditatar ti Tatar Sunda
dipulut nya balik deui ka dieu
ieuh, masing percaya.] x 2
[Bedil geus dipéloran
granat geus disoréndang
ieu kuring arék miang
jeung pasukan Siliwangi
ka Jogja hijrah taat paréntah.] x 2
[Bulan téh langlayangan tineung
nu ngoleang dipulut ku angin gaib
entong salempang mun kuring anggang
kapirarai tanah Sunda
kacipta mun balik enung mapagkeun
ieuh, di dora lembur.] x 2
[Bedil geus dipéloran
granat geus disoréndang
ieu kuring arék miang
jeung pasukan nusaati
ka wétan muru bijil balebat.] x 2
___________________________________________________________________________________________________
[edit] Dina Jandela
Tina jandéla urang silih gupayan
lemu paneuteup deudeuh jeung geugeut neuteup eunteub
tara nu nyora simpé henteu nyarita
ngukir ciptaan tresna jeung asih marengan
Lir nu keur ngimpi, lir nu keur ngimpi
gambar lamunan naon geuning nu katepi.
lir nu disirep, lir nu disirep
geter katineung reureuh geuning, rep rerep.
Tina jandéla urang silih kiceupan
imut kareueut raga katresnaan padeukeut
langit keur lenglang jauh tina kamelang
urang jadikeun galeuh pasini lawungkeun.
___________________________________________________________________________________________________
[edit] Hareupeun Kaca
Hareupeun kaca ngajanteng salila-lila
roman alum gurat duka atra narémbongan
hareupeun kaca sagala nu karandapan
lalakon katukang-tukang nungtut narémbongan.
Reueuk rumeuk dina eunteung
semu keueung semu nineung
jiwa awaking nyarita jiga nu nganaha-naha
duh ieung geuning jiga nu nganaha-naha.
Béjakeun deudeuh, bejakeun
rumasa geus katalimbeng.
___________________________________________________________________________________________________
[edit] Hariring Nu Kungsi Nyanding
Purnama nu kungsi leungit
ayeuna nganjang ka buruan deui
anu kungsi kapiati
kiwari urang ditepangkeun deui.
Hariring nu kungsi nyanding
ayeuna datang ngahaleuang deui
hayu pataréma tineung
cacapkeun meungpeung aya kasempetan
Ayeuna mangsa nu éndah
hayu urang suka bungah
caang bulan opat belas
narawangan haté bangbras
Ayeuna mangsa nu éndah
hayu urang suka bungah
caang bulan opat belas
narawangan ati bangblas.
___________________________________________________________________________________________________[edit] Imut Malati
Imut malati
wengi tadi geuningan patepang deui
nu kapiati ti kapungkur
jungjunan dianti-anti
Ti Gunung Putri
sareng saha salira lungsur ka landeuh
lagu kamari ngagalindeng
lalakon gending kadeudeuh
Najan sakedap jorélat tunjung balébat
éstu mo hilap karaos matak tibelat
ku henteu terang mulihna
ku henteu terang mulihna
eeh, naha iraha.
Najan mung imut saulas sakilat ilang
tansah kairut hanjakal teu sering tepang
ku henteu terang léosna
ku henteu terang léosna
eeh, geuning kamana.
___________________________________________________________________________________________________
[edit] Kembang Impian
Antara lolongkrang kiceup
urang pateuteup
bulan pias enteupna lalangsé kayas
kaca jandéla nu muka
kaca katresna nu muka
peuting téh teuing ku jempling
asih téh teuing ku wening
Pangharepan lir laut nu jero
teu katepi ku sora panggero
urang teuleuman ku geter deudeuh duaan
urang tataran ku karep jeung pangharepan.
Tong teuing ngedalkeun lisan
urang guneman
na ciptaan bagja deukeut patémbongan
geter ti ati ka ati
hiber jadina pasini
saranggeuy kembang impian
sungkemeun kana lamunan.
___________________________________________________________________________________________________
[edit] Longkéwang
[Baheula mun pareng nganjang
suguhna imut nyi lanjang
asih nu nganteur harepan
pasini na kasadrahan.] x 2
Mmmh, deudeuh teuing
na peuting héab naraka
aya nyawa milar raga
bébéné mulang ti heula
bébéné mulang ti heula.
Mmmh, deudeuh teuing
na peuting hujan cimata
aya waruga palastra
jajaka raheut haténa
jajaka raheut haténa.
[Ayeuna mun pareng nganjang
nu témbong ukur kalangkang
mega mendung na jajantung
lagu liwung na bangbarung.] x 2
.. lagu liwung na bangbarung.
___________________________________________________________________________________________________
[edit] Malati di Gunung Guntur
Malati di Gunung Guntur
seungitna sungkeman ati
bodas sésétraning asa
jadina tina mumunggang leuweung larangan.
Malati di Gunung Guntur
hanjakal henteu dipetik
béja geus aya nu boga
ngahaja melak di dinya tara guriang.
Ayeuna kurang geus jauh
malati sosoca gunung
boa geus aya nu metik duka kusaha.
Kamari jol aya beja
malati ratna mumunggang
majar can aya nu metik duka kunaon.
Malati di Gunung Guntur
ligar dina panineungan, na panineungan
na saha nu baris metik
kuring mah da puguh jauh
biheung kadongkang.
___________________________________________________________________________________________________
[edit] Purnama Urang Nu Boga
Hibar deui purnama, hibar na ati
nyanding kembang malati nu kapiati
aya asih sumérén dina lahunan
aya deudeuh gumulung jero tangtungan
urang teang, enung,
poé isuk bulan sumedang wangi
urang seuseut, enung,
asih suci ari sumujud sari pangaji
Gelar deui lalakon, gelar ayeuna
nyampak lagu wirahma deudeuh kameumeut
taman éndah dicipta tempat ngabungbang
tepung teuteup duaan bunder kageugeut
langit béngbras, euis, bulan pinuh ngagenyas sutra kadéwan
angin lamping, eulis, ngelus laun ari haréwos béja kiriman
Hayu enung patémbongan paheut jangji panganténan, geuning
hayu enung patémbongan paheut jangji panganténan
purnama urang nu boga
ari purnama urang nu nampa.
___________________________________________________________________________________________________
[edit] Sagagang Kembang Ros
Sagagang kembang ros tawis pangbakti ka diri
sulur waléh ti jungjunan, ieung asih nu wening.
Runtuyan haréwos jangji pasini katampi
moal weléh mikahéman, ieuh asih nu wening.
Sarining kembang jatining asih
jadi angkeuhan, duh urang duaan.
Ngaca pangharepan panteng kayakinan
na dasaring ati urang duaan.
Sagagang kembang ros tawis pangbakti ka diri
sulur waléh ti jungjunan, ieung asih nu wening.
___________________________________________________________________________________________________
MASKUMAMBANG :Hé barudak kudu mikir ti leuleutik,
Manéh kahutangan,
Ku kolot ti barang lahir,
Nepi ka ayeuna pisan
Anu ngurus matak hésé matak pusing,
Sumawon rugina,
Ngan kolot anu gumati,
Ngaméménan salawasna
Maranéh téh kudu baé boga pikir,
Keur mulang tarima,
Ka kolot rék males asih,
Di mana geus cumarita
(Panjoengsi Basa IIA, 1933)
Manéh kahutangan,
Ku kolot ti barang lahir,
Nepi ka ayeuna pisan
Anu ngurus matak hésé matak pusing,
Sumawon rugina,
Ngan kolot anu gumati,
Ngaméménan salawasna
Maranéh téh kudu baé boga pikir,
Keur mulang tarima,
Ka kolot rék males asih,
Di mana geus cumarita
(Panjoengsi Basa IIA, 1933)
___________________________________________________________________________________________________
PUPUH KINANTI :
Aya saung luhur gunung, paragi gusti ningali, ningali nu moro uncal, uncal digiring ti pasir, pamatang paheula-heula, atra katingal ti pasir.
Tukang ngilang tingcareluk, ngahaokan anjing manting, trong-trang kolotok disada, pasaru jeung haok legig, ngabibira sato hewan, malar bijil ti nu suni.
Uncal ngejat tingjaraul, rikat pamatang ningali, sami ngagaredig kuda, caringcing ngeumbing kadali, gobang walat geus dilugas, semprung kuda lumpat tarik.
Kuda tegarna ngaberung, dungus jurang teu ditolih, ngan uncal anu ditingal, teu lami uncal kaberik, keplas diheumbat ku gobang, uncal rubuh tingjumpalik.
(Ganda Sari V, 1949)
___________________________________________________________________________________________________
PUPUH WIRANGRONG :
Barudak mangka ngalarti
Ulah rek kadalon-dalon
Enggon-enggon nungtut elmu
Mangka getol mangka tigin
Pibekeleun sarerea
Modal bakti ka nagara
Tukang ngilang tingcareluk, ngahaokan anjing manting, trong-trang kolotok disada, pasaru jeung haok legig, ngabibira sato hewan, malar bijil ti nu suni.
Uncal ngejat tingjaraul, rikat pamatang ningali, sami ngagaredig kuda, caringcing ngeumbing kadali, gobang walat geus dilugas, semprung kuda lumpat tarik.
Kuda tegarna ngaberung, dungus jurang teu ditolih, ngan uncal anu ditingal, teu lami uncal kaberik, keplas diheumbat ku gobang, uncal rubuh tingjumpalik.
(Ganda Sari V, 1949)
___________________________________________________________________________________________________
PUPUH WIRANGRONG :
Barudak mangka ngalarti
Ulah rek kadalon-dalon
Enggon-enggon nungtut elmu
Mangka getol mangka tigin
Pibekeleun sarerea
Modal bakti ka nagara
___________________________________________________________________________________________________
NGAWIH
Mun cik diajar ngawih
kawih urang kaulinan
kawih sindir bangbalikan
tunggal tumpangeun kawih
nguang-nguang nabeuh irung
nguak-nguik nabeuh ceuli
nabeuh irung cicimplungan
nabeuh ceuli kakawihan
kawih teu puguh buusan
kawih teu tamba tiriseun.
(cobalah belajar berlagu, lagu kita permainan, lagu sindir bentuk pantun. Semata-mata kendaraan lagu, berdengung menabuh hidung, berkuik menabuh telinga, menabuh hidung berdentuman, menabuh telingan berlagu-lagu, lagu tak sampai selesai, lagu obat sunyi).
PUPUJIAN (Rd. Machjar Angga Kusumahdinata)
Hayu batur urang dikir,
nya dikir malem ramadhan,
sugan pareng Nabi calik,
ganjaran ti sawarga,
alus ati bisa ngaji,
byar padang, byar caang,
caangna salawé isun.
Saha-saha umat Nabi,
anu dikir saban peuting,
pupujian méméh saré,
mahabah ka Pangéran,
ka Allah Nu Mulya,
tinangtu dipikawelas,
Saha-saha umat Rasul,
boh awéwé boh lalaki,
anu getol maca tasbéh,
dumugi ka reup saré,
ku Allah Nu Mulya,
tinangtu dipikahéman.
Saha baé jelemana,
anu muntang ka Pangéran,
henteu unggut kalinduan,
teu gedag kaanginan,
ku Allah Nu Mulya,
dikabul sapanejana.
___________________________________________________________________________________________________
PUPUH SINOM :
Sinom nu jadi piwulang,
piwulang ka murangkalih,
anu eukeur sarakola,
mambrih salamet nya diri,
ingetkeun beurang peuting,
tungkus dina jero kalbu,
picontoeun salawasna,
kaitkeun di jero ati,
ulah pisan hirup tinggal ti wiwaha.
Babasan sepuh baheula,
mun urang rek nangtung cicing,
dina hiji tangtung urang,
tilik heula masing rintih,
hareup tukang jeung gigir,
ukur ka handap ka luhur,
jeung mun urang lumampah,
léngkah urang kudu telik,
masing awas cucuk rungga burang jungkrang.
Pangajak jeung pangbibita,
ti batur ti kadang wargi,
ulah rusuh dipilampah,
pikir heula masing lantip,
naon nu jadi hasil,
rugi untungna pék itung,
awal ahirna papay,
rarampa ku rasa ati,
gancang pincang jauhan ulah disorang.
Mun geus bener tangtung urang,
gilig dina jero ati,
tétéla manjing ukuran,
éta ulah samar deui,
ulah inggis jeung risi,
sing ajeg urang nya nangtung,
tong unggut kalinduan,
gedag ku hiliwir angin,
masing ajeg jejeg dina tangtung urang.
Mun sakira asa-asa,
ati henteu pati gilig,
ulah pisan rék disorang,
karana matak balai,
asa-asa jeung inggis,
temahna osok malapung,
badan nyorang wiwirang,
anu matak kudu rintih,
sing sampurna nalékna sing asak pisan.
(Soeria di Radja : Panjoengsi Basa).
___________________________________________________________________________________________________Hayu batur urang dikir,
nya dikir malem ramadhan,
sugan pareng Nabi calik,
ganjaran ti sawarga,
alus ati bisa ngaji,
byar padang, byar caang,
caangna salawé isun.
Saha-saha umat Nabi,
anu dikir saban peuting,
pupujian méméh saré,
mahabah ka Pangéran,
ka Allah Nu Mulya,
tinangtu dipikawelas,
Saha-saha umat Rasul,
boh awéwé boh lalaki,
anu getol maca tasbéh,
dumugi ka reup saré,
ku Allah Nu Mulya,
tinangtu dipikahéman.
Saha baé jelemana,
anu muntang ka Pangéran,
henteu unggut kalinduan,
teu gedag kaanginan,
ku Allah Nu Mulya,
dikabul sapanejana.
___________________________________________________________________________________________________
PUPUH SINOM :
Sinom nu jadi piwulang,
piwulang ka murangkalih,
anu eukeur sarakola,
mambrih salamet nya diri,
ingetkeun beurang peuting,
tungkus dina jero kalbu,
picontoeun salawasna,
kaitkeun di jero ati,
ulah pisan hirup tinggal ti wiwaha.
Babasan sepuh baheula,
mun urang rek nangtung cicing,
dina hiji tangtung urang,
tilik heula masing rintih,
hareup tukang jeung gigir,
ukur ka handap ka luhur,
jeung mun urang lumampah,
léngkah urang kudu telik,
masing awas cucuk rungga burang jungkrang.
Pangajak jeung pangbibita,
ti batur ti kadang wargi,
ulah rusuh dipilampah,
pikir heula masing lantip,
naon nu jadi hasil,
rugi untungna pék itung,
awal ahirna papay,
rarampa ku rasa ati,
gancang pincang jauhan ulah disorang.
Mun geus bener tangtung urang,
gilig dina jero ati,
tétéla manjing ukuran,
éta ulah samar deui,
ulah inggis jeung risi,
sing ajeg urang nya nangtung,
tong unggut kalinduan,
gedag ku hiliwir angin,
masing ajeg jejeg dina tangtung urang.
Mun sakira asa-asa,
ati henteu pati gilig,
ulah pisan rék disorang,
karana matak balai,
asa-asa jeung inggis,
temahna osok malapung,
badan nyorang wiwirang,
anu matak kudu rintih,
sing sampurna nalékna sing asak pisan.
(Soeria di Radja : Panjoengsi Basa).
LINGKUNG LEMBUR :
Tuh di lamping pagunungan,
tuh di pasir gugumplukan,
tempat sirna paniisan,
lingkur lembur padusunan.
Aya mangsa kampung jadi kota, di sisi,
pamungpungan jalma nu ti dayeuh, ngarungsi,
kampung-kampung gegek lir di kota,
sisi gunung ngadadak sagala aya.
(Ganda Mekar Mang Koko)
DÉWI RENGGANIS
(Cuplikan ti Wawacan Rengganis : R.H. Abdussalam)
Pupuh Sinom :
Warna-warna lauk émpang, réa nu sami jeung pingping, ngagulung patumpang-tumpang, Retna Rengganis ningali, sagala lauk cai, lalawak pating suruwuk, sepat pating kocépat, julung-julung ngajalingjing, deukeut balong balingbing sisi balungbang.
Panyapit hurang jeg rangrang, ngagiring pairing-iring, resep asup kana karang, rarong kana karang curi, jelér pahilir-hilir, pating salasar sulusur, paray arey-areyan, pépét betok tingbaletrik, réa beunteur nu turun kana babantar.
Lauk lindeuk lir dikemat, kairut ku ilmu demit, Rengganis tangtu karamat, wantu putra Maha Resi, manahna gemat-gemit, nu matak réa panemu, tampi piwuruk rama, tipeuting sok sering nyaring, mun ti beurang puasa nyipuh kabisa.
Rengganis kersana siram, geus disalin ku cawening, sutra ipis patelesan, sarta ngirab-ngirab weni, mawur gambir malati, kembang layu dina gelung, rambutna patah lontar, panjang nepi kana bitis, lulus luis teu aya huis salambar.
Rengganis henteu uninga, yén Raden Suwangsa ngintip, tumaninah baé siram, ngaruru saluar diri, siga emas disangling, salira anu ngaruru, siram di jero taman, babasah sutra cawening, yén ditingal siga henteu nganggo sinjang.
Rahadén Iman Suwangsa, mingkin baé ngintip, socana kumedep tasma, teu pisan ngiceup saeutik, jeung pareng teu beresin, ambekan ogé dipegung, napas henteu dilepas, nyaur salebeting galih, boa ieu anu sok malingan kembang.
Ayeuna mah kanyaohan, tangtuna matak balai, lamun lumpat rék diudag, dicerek sanajan ceurik, tayoh geus jadi carik, curuk metik tunjung tutur, rupana geulis pisan, saumur kakara manggih, geus kagendam Suwangsa ku kageulisan.
Katerangan : Wawacan nyaéta wangun karya sastra anu pohara populér dina abad ke-19 nepi ka mimiti abad ke-20. Saméméh urang Sunda mikawanoh wangun penulisan prosa, ampir kabéh wangun tulisan disusun dina wangun puisi wawacan sarta dangding, anu dikarang ngagunakeun aturan pupuh.
___________________________________________________________________________________________________
(Cuplikan ti Wawacan Rengganis : R.H. Abdussalam)
Pupuh Sinom :
Warna-warna lauk émpang, réa nu sami jeung pingping, ngagulung patumpang-tumpang, Retna Rengganis ningali, sagala lauk cai, lalawak pating suruwuk, sepat pating kocépat, julung-julung ngajalingjing, deukeut balong balingbing sisi balungbang.
Panyapit hurang jeg rangrang, ngagiring pairing-iring, resep asup kana karang, rarong kana karang curi, jelér pahilir-hilir, pating salasar sulusur, paray arey-areyan, pépét betok tingbaletrik, réa beunteur nu turun kana babantar.
Lauk lindeuk lir dikemat, kairut ku ilmu demit, Rengganis tangtu karamat, wantu putra Maha Resi, manahna gemat-gemit, nu matak réa panemu, tampi piwuruk rama, tipeuting sok sering nyaring, mun ti beurang puasa nyipuh kabisa.
Rengganis kersana siram, geus disalin ku cawening, sutra ipis patelesan, sarta ngirab-ngirab weni, mawur gambir malati, kembang layu dina gelung, rambutna patah lontar, panjang nepi kana bitis, lulus luis teu aya huis salambar.
Rengganis henteu uninga, yén Raden Suwangsa ngintip, tumaninah baé siram, ngaruru saluar diri, siga emas disangling, salira anu ngaruru, siram di jero taman, babasah sutra cawening, yén ditingal siga henteu nganggo sinjang.
Rahadén Iman Suwangsa, mingkin baé ngintip, socana kumedep tasma, teu pisan ngiceup saeutik, jeung pareng teu beresin, ambekan ogé dipegung, napas henteu dilepas, nyaur salebeting galih, boa ieu anu sok malingan kembang.
Ayeuna mah kanyaohan, tangtuna matak balai, lamun lumpat rék diudag, dicerek sanajan ceurik, tayoh geus jadi carik, curuk metik tunjung tutur, rupana geulis pisan, saumur kakara manggih, geus kagendam Suwangsa ku kageulisan.
Katerangan : Wawacan nyaéta wangun karya sastra anu pohara populér dina abad ke-19 nepi ka mimiti abad ke-20. Saméméh urang Sunda mikawanoh wangun penulisan prosa, ampir kabéh wangun tulisan disusun dina wangun puisi wawacan sarta dangding, anu dikarang ngagunakeun aturan pupuh.
___________________________________________________________________________________________________
WULANG KRAMA
(Pupuh Asmarandana)
Wulangkrama nu dianggit,
Tegesna wuwulang krama,
Piwuruk lampah nu saé,
Hiji prakara bakuna,
Ulah katungkul ku susah,
Sulit juwet jeung nguluwut,
Balik ka inget peryatna.
Tunggal eusi bumi,
Naon-naon kalakuan,
Nu geus beunang ku nu séjén,
Ku manéh gé meureun beunang,
Lamun cengeng pikiran,
Lampah wekel ati suhud,
Pageuh muntang ka Pangéran.
Kadua prakara deui,
Ari jalma hirup éta,
Ulah katalanjur omong,
Suaban lancang supata,
Upama rugi dagang,
Pingges modal nu kapungkur,
Montong leleb dipikiran.
Balikan gedéan pikir,
Wawani sabeunang-beunang,
Tuluykeun lampah dagang téh,
Anu bakal dipilampah,
Ka hareup nya mikiran,
Teu pedah mikir ka pungkur,
Ka hareup masing waspada.
Katilu prakara deui,
Ulah rék wawanian,
Nangtukeun sagala gawé,
Anu tacan kapilampah,
Manusa teu kawasa,
Sanajan mungguh nu ngadu,
Teu bisa mastikeun meunang.
Kaopat prakara deui,
Wajib kudu dipikiran,
Supama boga kasusah,
Kira aya tambana,
Keur ngaleungitkeun pakéwuh,
Pék leungitkeun masing sirna.
Mun kapikir moal leungit,
Taya pitambaeunana,
Kudu dipasrahkeun baé,
Dipikir gé henteu pédah,
Anggur sok jadi tambah,
Ana dipaké nguluwut,
Buret jadi tambah susah.
Kalima prakara deui,
Papastén teu kanyahoan,
Tandana taya nu nyaho,
Buktina teu bisa nolak,
Kabéh nu kalakonan,
Cara rugi jeung untung,
Sarta bagja jeung cilaka.
Kagenep prakara deui,
Laku lampahing manusa,
Geus kudu prayatna baé,
Rajeun ogé sok katingal,
Baya nu tacan datang,
Saupama langit mendung,
Alamat rék datang hujan.
Nya kitu deui bilahi,
Rajeun ogé katinggalan,
pibayaeun ka awak téh,
sabeunang-beunang pikiran,
pipanulakeunana,
supaya luput pakéwuh,
pibayaeun henteu datang.
(Pupuh Asmarandana)
Wulangkrama nu dianggit,
Tegesna wuwulang krama,
Piwuruk lampah nu saé,
Hiji prakara bakuna,
Ulah katungkul ku susah,
Sulit juwet jeung nguluwut,
Balik ka inget peryatna.
Tunggal eusi bumi,
Naon-naon kalakuan,
Nu geus beunang ku nu séjén,
Ku manéh gé meureun beunang,
Lamun cengeng pikiran,
Lampah wekel ati suhud,
Pageuh muntang ka Pangéran.
Kadua prakara deui,
Ari jalma hirup éta,
Ulah katalanjur omong,
Suaban lancang supata,
Upama rugi dagang,
Pingges modal nu kapungkur,
Montong leleb dipikiran.
Balikan gedéan pikir,
Wawani sabeunang-beunang,
Tuluykeun lampah dagang téh,
Anu bakal dipilampah,
Ka hareup nya mikiran,
Teu pedah mikir ka pungkur,
Ka hareup masing waspada.
Katilu prakara deui,
Ulah rék wawanian,
Nangtukeun sagala gawé,
Anu tacan kapilampah,
Manusa teu kawasa,
Sanajan mungguh nu ngadu,
Teu bisa mastikeun meunang.
Kaopat prakara deui,
Wajib kudu dipikiran,
Supama boga kasusah,
Kira aya tambana,
Keur ngaleungitkeun pakéwuh,
Pék leungitkeun masing sirna.
Mun kapikir moal leungit,
Taya pitambaeunana,
Kudu dipasrahkeun baé,
Dipikir gé henteu pédah,
Anggur sok jadi tambah,
Ana dipaké nguluwut,
Buret jadi tambah susah.
Kalima prakara deui,
Papastén teu kanyahoan,
Tandana taya nu nyaho,
Buktina teu bisa nolak,
Kabéh nu kalakonan,
Cara rugi jeung untung,
Sarta bagja jeung cilaka.
Kagenep prakara deui,
Laku lampahing manusa,
Geus kudu prayatna baé,
Rajeun ogé sok katingal,
Baya nu tacan datang,
Saupama langit mendung,
Alamat rék datang hujan.
Nya kitu deui bilahi,
Rajeun ogé katinggalan,
pibayaeun ka awak téh,
sabeunang-beunang pikiran,
pipanulakeunana,
supaya luput pakéwuh,
pibayaeun henteu datang.
___________________________________________________________________________________________________
ALEUTAN MÉNAK:
Burudul ménak ti kidul,
iringan para tumenggung,
candakna angklung jeung degung,
tutup kendang kulit lutung,
dirarawat hoé wulung,
dipirig ku hujan subuh,
ditepak kunu jarangkung.
Burudul ménak ti kaler,
iringan para dipatén,
candakna topéng jeung ronggéng,
tutup kendang kulit banténg,
dirarawat hoé loréng,
dipirig ku hujan soré,
ditepak para cawéné.
Burudul ménak ti wétan,
iringan para kumendang,
candakna parabot perang,
tutup kendang kulit kidang,
dirarawat hoé belang,
dipirig ku hujan beurang,
ditepak ku para lanjang.
Burudul ménak ti kulon,
iringan para kaliwon,
candakna parabot barong,
tutup kendang kulit méong,
dirarawat hoé condong,
momotna hatong jeung rangkong,
éar nu pada narongton.
(Soeria di Radja, Panjoengsi Basa III, 1933)
___________________________________________________________________________________________________
ROESDI & MISNEM (Rd. Djajadiredja & A.C. Deenik, 1930)
(Pupuh Kinanti)
Rusdi ku Ramlan ditungtun
dikaléng diajak balik,
diupahan ku tiluan,
ku Ramlan, paman jeung bibi,
dipapalér dibubungah,
ulah nyantél ka nu balik.
Ti setatsion tarurun,
ngaréndéng anu prihatin,
nu ketir katingal mulang,
nu sedih katilar mulih,
Jang Rusdi wungkul nalangsa,
Sajalan-jalan ngan ceurik.
Pikirna asa pahatu,
di Bandung asa nunggelis,
lieuk lain lieuk lian,
ngumbara jauh ti ahli,
bibi, mamang, reujeung Ramlan,
jaba éta taya deui.
Ras inget ka lembur,
ka sakabéh batur ulin,
ayeuna jadi papisah,
paturay moal papanggih,
ganti ku budak alanyar,
boa teuing teu saati.
Inget ka jaman kapungkur,
keur basa manéhna leutik,
arulin jeung sobat-sobat,
ka cai jadi saleuwi,
ka darat jadi salebak,
runtut raut ruket dalit.
Jang Rusdi tungkul melenguk,
sasambat jeroning ati,
duh Ema kuma petana,
pilampaheun diri kuring,
aya di pangumbaraan,
kareueung kaletir teuing.
Prihatin aya di Bandung,
anggang ti kolot ti adi,
iraha atuh iraha,
urang babarengan deui,
Nyi Misnem naha bet iklas,
Akang teu diajak balik.
Nya dalah kumaha atuh,
da geus jamakna lalaki,
geus galib jaman ayeuna,
kudu iklas buang diri,
jalan nyiar kapinteran,
henteu kudu leutik ati.
Anggur pasrah ka Yang Agung,
mugi-mugi Maha Suci,
maparin sabar tawekal,
pasrah ka papastén diri,
ulah rék aral subaha,
kitu cék pikiran Rusdi
___________________________________________________________________________________________________
KAKAWIHAN MIARA HUNTU
(Cangkurileung Mang Koko - Taman Pamekar I)
Huntu hadé piara
Neut hudang nyikat huntu
Rék saré nyikat huntu
...Getol ngaberesihan
Kasakit ngajauhan
Lamun kurang piara
Rék ulin nyeri huntu
Bongan kurang niténan
Nyerina nyanyautan.
Bereséka ngurus huntu
Sing mindeng dikosokan
Sing mindeng dititénan
Lamun nyeri saeutik
Gancang ka Poliklinik
Teu tuman ngurus huntu
Jeung sok rasa mokaha
Huntu teu dipiara
Lamun ngurus jorok
Huntu téréh koropok.
Sing daék ngurus huntu
Najan keur manggih bungah
Najan pikir guligah
Tapi mun huntu nyeri
Rék bungah gé teu jadi
Sing apik kana huntu
Najan jalmana gandang
Najan taya kakurang
Nyeri huntu camerut
Rupa gé goréng patut.
___________________________________________________________________________________________________
LINGKUNG LEMBUR (Ganda Mekar Mang Koko)
Tuh di lamping pagunungan,
tuh di pasir gugumplukan,
tempat sirna paniisan,
lingkur lembur padusunan.
Aya mangsa kampung jadi kota, di sisi,
pamungpungan jalma nu ti dayeuh, ngarungsi,
kampung-kampung gegek lir di kota,
sisi gunung ngadadak sagala aya.
Label:
Musik,
Seni Budaya,
Sunda
Senin, 03 Oktober 2011
Sekilas Budaya Sunda
Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjujung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda, ramah tamah (someah), murah senyum, lemah lembut, dan sangat menghormati orangtua. Itulah cermin budaya dan kultur masyarakat sunda. Di dalam bahasa Sunda diajarkan bagaimana menggunakan (undak usuk basa) bahasa halus untuk orang tua.
Seperti pada kebudayaan sunda, kebudayaan sunda termasuk kebudayaan tertua.kebudayaan sunda yang ideal kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja – raja sunda. Ada beberapa waTka dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju keutamaan hidup.Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer dan pinter.
Kebudayaan sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Hampir semua masyarakat sunda beragama Islam namun ada beberapa yang bukan beragama islam, walaupun berebeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan di tujukan untuk alam semesta.
Kebudayaan sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan – kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar sunda , sering dikenal dengan masyarakat religius.Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo “ silih asih, silih asah dan silih asuh", saling mengasihi, saling mempertajam diri dan saling malindungi.Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang khas seperti kesopanan, rendah hati terhadap sesama,hormat kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda/kecil.Pada kebudayaan Sunda keseimbangan magis di pertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat Sunda melakukan gotong royong untuk mempertahankannya.
Budaya sunda memiliki banyak kesenian , diantaranya adalah kesenian sisngaan, tarian khas sunda, wayang golek,permainan anak kecil yang khas,alat musik sunda yang bisanya digunakan pada pagelaran kesenian.
Sisingaan adalah kesenian khas sunda yang menampilkan 2 – 4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil menari sisingaan sering digunakan dalam acara tertentu, seperti pada acra khitanan.
Wayang golek adalah boneka kayu yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu cerita perwayangan. Wayang diamainkan oleh seorang dalang yang menguasai berbagai karakter maupun suara tokoh yang di mainkan.
Jaipongan adalah pengembangan dan akar dari tarian klasik .
Tarian Ketuk Tilu , sesuai dengan namanya Tarian ketuk tilu berasal dari nama sebuah instrumen atau alat musik tradisional yang disebut ketuk sejumlah 3 buah.
Alat musik khas sunda yaitu, angklung , rampak kendang, suling,kecapi,gong,calung. Angklung adalah instrumen musik yang terbuat dari bambu , yang unik , enak didengar angklung juga sudah menjadi salah satu warisan kebudayaan Indonesia.
Rampak kendang adalah salah satu instrumen musik tradisional yang di mainkan bersamma – sama instrumen lainnya
Seperti telah disebutkan di atas bahwa kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda.
Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan urang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.
Dalam perkembangannya yang paling kontemporer, kebudayaan Sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda pun sering kali mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan Sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya? Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda yang tampaknya provokatif tersebut, bila dikaji dengan tenang sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan Sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa ke mana kebudayaan Sunda tersebut?
Setidaknya ada empat daya hidup yang perlu dicermati dalam kebudayaan Sunda, yaitu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar.
Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, aksara sunda sangat asing bagi orang sunda sendiri kemudian bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa "gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.
Apabila kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan, hal itu sejalan pula dengan kemampuan mobilitasnya. Kemampuan kebudayaan Sunda untuk melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Meskipun ada unsur kebudayaan Sunda yang memperlihatkan kemampuan untuk bermobilitas, baik secara horizontal maupun vertikal, secara umum kemampuan kebudayaan Sunda untuk bermobilitas dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan Sunda tidak saja tampak jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur.
Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, iktikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, seberapa jauh telah berupaya untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap "membumi" dengan masyarakat Sunda.
Kalaulah upaya untuk "membumikan" harta pusaka saja tidak ada bisa dipastikan paradigma baru untuk membuat folklor tersebut agar sanggup berkompetisi dengan kebudayaan luar pun bisa jadi hampir tidak ada atau bahkan mungkin, belum pernah terpikirkan sama sekali. Biarlah folklor tersebut menjadi kenangan masa lalu urang Sunda dan biarkanlah folklor tersebut ikut terkubur selamanya bersama para pendukungnya, begitulah barangkali ucap urang Sunda yang tidak berdaya dalam merawat dan memberdayakan warisan leluhurnya.
Berkenaan dengan kemampuan regenerasi, kebudayaan Sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, untuk tidak mengatakan anti regenerasi. Budaya "kumaha akang", "teu langkung akang", "mangga tipayun", yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang Sunda dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda gagap dengan regenerasi.
Generasi-generasi baru urang Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta "terlalu majunya" pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat.
Bila pengamatan terhadap daya hidup kebudayaan Sunda melahirkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi manakala tiga mustika mutu hidup kreasi Rendra digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik itu mustika tanggung jawab terhadap kewajiban, mustika idealisme maupun mustika spontanitas. Lemahnya tanggung jawab terhadap kewajiban tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewaijiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban.
Hedonisme yang kini melanda Kebudayaan Sunda telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Untuk melaksanakan suatu kewajiban tidak lagi didasarkan atas tanggung jawab yang dimilikinya, tetapi lebih didasarkan atas seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kewajiban saja sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, janganlah berharap bahwa di dalamnya masih ada apa yang disebut mustika idealisme. Para hedonis dengan kekuatan materi yang dimilikinya, sengaja atau tidak sengaja, semakin memupuskan idealisme dalam kebudayaan Sunda. Akibatnya, jadilah betapa sulitnya komunitas Sunda menemukan sosok-sosok yang bekerja dengan penuh idealisme dalam memajukan kebudayaan Sunda.
Berpijak pada kondisi lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda, timbul pertanyaan besar, apa yang salah dengan kebudayaan Sunda? Untuk menjawab ini banyak argumen bisa dikedepankan. Tapi dua di antaranya yang tampaknya bisa diangkat ke permukaan sebagai faktor berpengaruh paling besar adalah karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda.
Ketidakjelasan strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya "pegangan bersama" yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan Sunda. Kebudayaan Sunda tampaknya dibiarkan berkembang secara liar, tanpa ada upaya sungguh-sungguh untuk memandunya agar selalu berada di "jalan yang lurus", khususnya manakala harus berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan asing yang galibnya terorganisasi dengan rapi serta memiliki kemasan menarik. Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai. Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki urang Sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong, ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa diterima komunitas yang lebih luas atau malah hampir punah sampai anak cucu kita tak tahu lagi apa itu bandros, ampiang, ongol-ongol, otokowo, kue lobur/jibeuh/balok, cuhcur, ali agrem, pancong, jengki,/subadra. Kalau Kolonel Sanders mampu mengemas ayam menjadi demikian mendunia, mengapa urang Sunda tidak mampu melahirkan Mang Ujang, Kang Duyeh, ataupun Bi Eha dengan kemasan-kemasan makanan tradisional Sunda yang juga mendunia?
Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis oleh urang Sunda. Dalam kaitan ini, upaya Yayasan Rancage untuk memberikan penghargaan dalam tradisi tulis perlu mendapat dukungan dari berbagai elemen urang Sunda. Sayangnya, hingga saat ini pertumbuhan tradisi tulis pada urang Sunda masih tetap terbilang rendah.
Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Sunda
http://tamanmini.com
Seperti pada kebudayaan sunda, kebudayaan sunda termasuk kebudayaan tertua.kebudayaan sunda yang ideal kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja – raja sunda. Ada beberapa waTka dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju keutamaan hidup.Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer dan pinter.
Kebudayaan sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Hampir semua masyarakat sunda beragama Islam namun ada beberapa yang bukan beragama islam, walaupun berebeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan di tujukan untuk alam semesta.
Kebudayaan sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan – kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar sunda , sering dikenal dengan masyarakat religius.Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo “ silih asih, silih asah dan silih asuh", saling mengasihi, saling mempertajam diri dan saling malindungi.Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang khas seperti kesopanan, rendah hati terhadap sesama,hormat kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda/kecil.Pada kebudayaan Sunda keseimbangan magis di pertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat Sunda melakukan gotong royong untuk mempertahankannya.
Budaya sunda memiliki banyak kesenian , diantaranya adalah kesenian sisngaan, tarian khas sunda, wayang golek,permainan anak kecil yang khas,alat musik sunda yang bisanya digunakan pada pagelaran kesenian.
Sisingaan adalah kesenian khas sunda yang menampilkan 2 – 4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil menari sisingaan sering digunakan dalam acara tertentu, seperti pada acra khitanan.
Wayang golek adalah boneka kayu yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu cerita perwayangan. Wayang diamainkan oleh seorang dalang yang menguasai berbagai karakter maupun suara tokoh yang di mainkan.
Jaipongan adalah pengembangan dan akar dari tarian klasik .
Tarian Ketuk Tilu , sesuai dengan namanya Tarian ketuk tilu berasal dari nama sebuah instrumen atau alat musik tradisional yang disebut ketuk sejumlah 3 buah.
Alat musik khas sunda yaitu, angklung , rampak kendang, suling,kecapi,gong,calung. Angklung adalah instrumen musik yang terbuat dari bambu , yang unik , enak didengar angklung juga sudah menjadi salah satu warisan kebudayaan Indonesia.
Rampak kendang adalah salah satu instrumen musik tradisional yang di mainkan bersamma – sama instrumen lainnya
Seperti telah disebutkan di atas bahwa kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda.
Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan urang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.
Dalam perkembangannya yang paling kontemporer, kebudayaan Sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda pun sering kali mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan Sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya? Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda yang tampaknya provokatif tersebut, bila dikaji dengan tenang sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan Sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa ke mana kebudayaan Sunda tersebut?
Setidaknya ada empat daya hidup yang perlu dicermati dalam kebudayaan Sunda, yaitu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar.
Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, aksara sunda sangat asing bagi orang sunda sendiri kemudian bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa "gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.
Apabila kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan, hal itu sejalan pula dengan kemampuan mobilitasnya. Kemampuan kebudayaan Sunda untuk melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Meskipun ada unsur kebudayaan Sunda yang memperlihatkan kemampuan untuk bermobilitas, baik secara horizontal maupun vertikal, secara umum kemampuan kebudayaan Sunda untuk bermobilitas dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan Sunda tidak saja tampak jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur.
Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, iktikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, seberapa jauh telah berupaya untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap "membumi" dengan masyarakat Sunda.
Kalaulah upaya untuk "membumikan" harta pusaka saja tidak ada bisa dipastikan paradigma baru untuk membuat folklor tersebut agar sanggup berkompetisi dengan kebudayaan luar pun bisa jadi hampir tidak ada atau bahkan mungkin, belum pernah terpikirkan sama sekali. Biarlah folklor tersebut menjadi kenangan masa lalu urang Sunda dan biarkanlah folklor tersebut ikut terkubur selamanya bersama para pendukungnya, begitulah barangkali ucap urang Sunda yang tidak berdaya dalam merawat dan memberdayakan warisan leluhurnya.
Berkenaan dengan kemampuan regenerasi, kebudayaan Sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, untuk tidak mengatakan anti regenerasi. Budaya "kumaha akang", "teu langkung akang", "mangga tipayun", yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang Sunda dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda gagap dengan regenerasi.
Generasi-generasi baru urang Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta "terlalu majunya" pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat.
Bila pengamatan terhadap daya hidup kebudayaan Sunda melahirkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi manakala tiga mustika mutu hidup kreasi Rendra digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik itu mustika tanggung jawab terhadap kewajiban, mustika idealisme maupun mustika spontanitas. Lemahnya tanggung jawab terhadap kewajiban tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewaijiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban.
Hedonisme yang kini melanda Kebudayaan Sunda telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Untuk melaksanakan suatu kewajiban tidak lagi didasarkan atas tanggung jawab yang dimilikinya, tetapi lebih didasarkan atas seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kewajiban saja sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, janganlah berharap bahwa di dalamnya masih ada apa yang disebut mustika idealisme. Para hedonis dengan kekuatan materi yang dimilikinya, sengaja atau tidak sengaja, semakin memupuskan idealisme dalam kebudayaan Sunda. Akibatnya, jadilah betapa sulitnya komunitas Sunda menemukan sosok-sosok yang bekerja dengan penuh idealisme dalam memajukan kebudayaan Sunda.
Berpijak pada kondisi lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda, timbul pertanyaan besar, apa yang salah dengan kebudayaan Sunda? Untuk menjawab ini banyak argumen bisa dikedepankan. Tapi dua di antaranya yang tampaknya bisa diangkat ke permukaan sebagai faktor berpengaruh paling besar adalah karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda.
Ketidakjelasan strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya "pegangan bersama" yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan Sunda. Kebudayaan Sunda tampaknya dibiarkan berkembang secara liar, tanpa ada upaya sungguh-sungguh untuk memandunya agar selalu berada di "jalan yang lurus", khususnya manakala harus berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan asing yang galibnya terorganisasi dengan rapi serta memiliki kemasan menarik. Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai. Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki urang Sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong, ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa diterima komunitas yang lebih luas atau malah hampir punah sampai anak cucu kita tak tahu lagi apa itu bandros, ampiang, ongol-ongol, otokowo, kue lobur/jibeuh/balok, cuhcur, ali agrem, pancong, jengki,/subadra. Kalau Kolonel Sanders mampu mengemas ayam menjadi demikian mendunia, mengapa urang Sunda tidak mampu melahirkan Mang Ujang, Kang Duyeh, ataupun Bi Eha dengan kemasan-kemasan makanan tradisional Sunda yang juga mendunia?
Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis oleh urang Sunda. Dalam kaitan ini, upaya Yayasan Rancage untuk memberikan penghargaan dalam tradisi tulis perlu mendapat dukungan dari berbagai elemen urang Sunda. Sayangnya, hingga saat ini pertumbuhan tradisi tulis pada urang Sunda masih tetap terbilang rendah.
Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Sunda
http://tamanmini.com
Label:
Sunda
Langganan:
Postingan (Atom)


















