MENU

Translator

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 19 Oktober 2011

Mana yang Terbaik : S-Curve, CPM, atau EVM?

S-Curve yang praktis telah lama digunakan pada proyek Pemerintah maupun Swasta. Bar Chart dan turunannya yaitu CPM yang lebih akurat dijadikan persyaratan dalam mengajukan penawaran proyek, namun jarang digunakan pada pelaksanaannya. EVM  (Earned Value Method) yang cukup kompleks bahkan “nyaris tak terdengar”. Lalu sebenarnya yang manakah yang harus digunakan?

Seperti yang telah dibahas dalam tulisan sebelumnya bahwa proyek adalah unik. Memiliki karakteristik yang tidak persis sama antara proyek yang satu dengan yang lainnya. Karakteristik proyek yang mempengaruhi pertimbangan dalam menentukan alat yang baik dalam membuat atau monitoring schedule proyek adalah sebagai berikut:
  • Nilai kontrak proyek
  • Kompleksitas proyek
  • Waktu pelaksanaan proyek
  • Jenis proyek
  • Kompetensi Tim proyek
  • Fungsi proyek
Kita akan lihat penjelasan masing-masing jenis alat monitoring schedule untuk menentukan jenis alat monitoring yang mana yang terbaik untuk digunakan dengan mengaitkannya terhadap kondisi atau karakteristik proyek.


S-Curve (Kurva-S)
S-Curve atau Kurva S adalah suatu grafik hubungan antara waktu pelaksanaan proyek dengan nilai akumulasi progres pelaksanaan proyek mulai dari awal hingga proyek selesai. Kurva-S sudah jamak bagi pelaku proyek. Umumnya proyek menggunakan S-Curve dalam perencanaan dan monitoring schedule pelaksanaan proyek, baik pemerintah maupun swasta.


Grafik Kurva-S
Masih belum jelas juga?  Jadi begini....
S-Curve itu adalah sebuah kurva yang menyerupai huruf S. kurva itu merupakan alat kendali suatu jadwal pelaksanaan proyek pada proyek yang akan atau sedang dijalankan. Proyek yang akan dikerjakan tentunya harus mempunyai jadwal-jadwal pengerjaan atau semacam target tiap minggu perbulannya. Target tiap minggu itu diberikan bobot setiap item pekerjaan yang sesuai dengan bobot kerjanya. Bobot-bobot itu (dalam persen) dijumlahkan setiap item pekerjaan kolom per-minggu (bingung yahh..). nah setelah itu, diakumulasikan jumlah perkolom itu sehingga mencapai angka 100%. Akumulasi perminggu itulah yang selanjutnya diplot menjadi grafik kurva S. ini namanya kuva S standar. Untuk mengetahui apakah suatu proyek sesuai dengan jadwal yang telah dibuat, maka buatlah kurva S sesuai dengan pengerjaan actual di lapangan.

Critical Path Method (CPM)
CPM merupakan suatu metode dalam mengidentifikasi jalur atau item pekerjaan yang kritis. Untuk membuatnya dapat secara manual matematis. Cukup rumit apalagi item pekerjaan yang banyak dan kompleks. Namun saat ini banyak software yang menyediakan fasilitas untuk mendapatkan CPM.
CPM merupakan produk turunan dari Bar Chart. CPM lebih jarang digunakan dalam proyek dibandingkan dengan Kurva-S. Pada kenyataannya banyak pelaku proyek (Kontraktor, Pengawas, dan Owner) belum familiar dengan alat yang satu ini kecuali untuk yang sudah memiliki pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang memadai. Namun jumlahnya masih belum seberapa.
Penggunaan CPM baru sebatas syarat yang harus diajukan oleh kontraktor dalam lelang. Setelah itu dalam pelaksanaannya, hampir tidak pernah dipakai. Seharusnya CPM yang dibuat pada saat tender, menjadi baseline dalam monitoring pelaksanaan proyek.
Berdasarkan pengalaman di proyek, metode CPM sebenarnya sangat powerfull dalam membantu proyek keluar dari masalah keterlambatan. Asal perencanaan awalnya dibuat cukup memadai. Berikut diberikan contoh CPM di proyek:
Contoh sederhana CPM



Contoh aplikasi CPM dengan Software

CPM mengilustrasikan terlambat atau tidak proyek dalam bentuk waktu akhir pelaksanaan proyek. CPM berisi uraian pekerjaan yang berada di jalur kritis. Pekerjaan-pekerjaan yang berada di jalur kritis harus dijaga oleh Tim Proyek. Start-Finish-Duration item pekerjaan yang berada pada jalur kritis harus tidak boleh meleset karena akan menyebabkan waktu pelaksanaan akan mundur atau terlambat.

Earned Value Method (EVM)
Konsep earned value digunakan sebagai alat ukur kinerja yang mengintegrasikan antara aspek biaya dan aspek waktu. Penggunaannya di Indonesia “nyaris tak terdengar”.
Penggunaan konsep earned value dalam penilaian kinerja proyek dijelaskan melalui Gambar di bawah ini. Beberapa istilah yang terkait dengan penilaian ini adalah Cost Variance, Schedule Variance, Cost Performance Index, Schedule Performance Index, Estimate at Completion, dan Variance at Completion.
Grafik kurva S Earned Value

Walaupun konsep earned value terlihat sederhana, namun implementasinya dalam pengelolaan proyek tidaklah mudah karena harus didukung oleh sistem manajemen yang mampu menyediakan input data yang lengkap dalam perhitungan kinerja proyek. Bila kinerja proyek buruk, sistem akan mampu menelusuri bagian mana yang bermasalah yang menyebabkan pembengkakan biaya dan terjadinya keterlambatan pelaksanaan proyek. Terdapat 10 kriteria bagi terselenggaranya pengelolaan proyek yang berdasarkan pada konsep earned value, sebagai berikut:
  • Komitmen manajemen
  • Menetapkan lingkup proyek dengan work breakdown structure (WBS).
  • Menciptakan management control cells (cost account).
  • Menetapkan tanggung jawab fungsional untuk setiap bagian terkecil dari manajemen proyek (project’s management control cells).
  • Membuat earned value baseline..
  • Penggunaan proses formal penjadwalan proyek
  • Pengelolaan biaya tidak langsung (indirect cost)
  • Secara periodik, mengestimasi biaya penyelesaian proyek
  • Pelaporan status proyek
  • Menyusun historical database

Pakai yang Mana?
Berdasarkan penjelasan mengenai masing-masing alat kendali schedule dan melihat karakteristik proyek, dapat disusun suatu tabel rekomendasi alat kontrol yang mana yang sesuai dengan berbagai kondisi proyek. Pemakaian tidak terbatas harus  menggunakan salah satu. Jika memang diperlukan dapat menggunakan lebih dari satu atau malah pakai ketiga-tiganya. Semua tergantung dari kondisi proyek yang dilaksanakan.
Pemilihan alat yang digunakan juga harus memperhatikan situasi saat proyek tengah berjalan. Jadi tidak hanya ditentukan pada saat proyek belum dilaksanakan. Artinya, bisa saja proyek yang cukup longgar waktu pelaksanaannya dengan nilai kontrak yang kecil dan kompleksitasnya rendah dimana awalnya hanya ditentukan menggunakan S-Curve dapat bertambah alat kendalinya menjadi kombinasi S-Curve dan CPM. Ini situasional. Pahami manfaat masing-masing alat kendali.
Berikut disampaikan tabel rekomendasi yang dimaksud yang dibuat berdasarkan pengalaman dan beberapa referensi yang terkait dengan pembahasan di atas:

No Karakteristik Proyek S-Curve CPM EVM
A Nilai Kontrak
Kecil
Sedang
Besar
B Kompleksitas Proyek
Kecil
Sedang
Tinggi
C Waktu Pelaksanaan Proyek
Singkat
Sedang
Panjang
D Jenis Proyek
Pemerintah
Swasta
International
Non-Konstruksi
E Kompetensi Pelaku Proyek
Kurang
Sedang
Tinggi

Contoh:
Jika proyek yang dilaksanakan memiliki karakteristik sebagai berikut:
Nilai kontrak kecil ( Rp. 20 M), kompleksitas sedang (Banyak item pekerjaan termasuk yang tidak standart dan keterkaitan antar pekerjaan cukup banyak), waktu pelaksanaan singkat (4 bulan), Jenis Proyek adalah proyek pemerintah, dan kompetensi pelaku proyek dianggap sedang. Maka alat kontrol schedule yang direkomendasikan adalah:
  • Nilai kontrak kecil (S-Curve)
  • Kompleksitas tinggi (S-Curve dan CPM)
  • Waktu pelaksanaan singkat (CPM)
  • Proyek pemerintah (S-Curve)
  • Kompetensi sedang (S-Curve dan CPM)
Berdasarkan kondisi di atas, maka dapat disarankan untuk menggunakan S-Curve sebagai alat kendali formal dalam frekuensi mingguan, namun dalam kesehariannya harus menggunakan CPM untuk kendali yang lebih teliti mengingat waktu pelaksanaan yang singkat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar