MENU

Translator

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 18 Juli 2012

Mobil Irit ITB Membanggakan

BANDUNG – Mobil hemat energi Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mencetak hattrick pada kejuaraan Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2012 di Sepang International Circuit, Kuala Lumpur, Malaysia, 4-7 Juli lalu.

Image: Corbis
Sebanyak 124 tim dari 18 negara mengikuti kejuaraan tersebut. Di ajang internasional itu, mobil irit hasil rakitan mahasiswa ITB meraih tiga penghargaan yaitu tim Cikal Cakrasvarna menjadi juara pertama pada kelas bahan bakar bensin, tim Cikal Cakrawala sebagai runner-up untuk kelas bahan bakar baterai lithium, dan tim Cikal Diesel sebagai runner-up pada kelas bahan bakar diesel alternatif.

"Shell Eco-Marathon merupakan sebuah kompetisi yang menantang para pelajar di seluruh dunia untuk membuat sebuah kendaraan ultrahemat energi," ujar anggota tim Cikal Cakrawala, Febri Arwan Nugraha, di Gedung Annex ITB, Jalan Tamansari, Kota Bandung, kemarin. 

Menurut dia, dalam kompetisi ini dilombakan sejumlah mobil rancangan mahasiswa dan pelajar dengan berbagai jenis bahan bakar untuk menempuh jarak terjauh dengan jumlah bahan bakar tertentu. Bahan bakar yang digunakan antara lain baterai lithium, diesel, etanol, fame, bensin, GTL (gas to liquid), hidrogen, dan energi surya. 

Tim Cikal Cakrasvarna berhasil menjadi yang teririt dengan konsumsi bahan bakar bensin 196 km/liter, tim Cikal Cakrawala meraih posisi kedua dengan konsumsi energi 75 km/kWh, serta Cikal Diesel dengan konsumsi bahan biodiesel 149 km/liter.

Menurut Manajer Cikal Cakrasvarna Peter Lukito Ferdian, prestasi ini merupakan hasil kerja keras para mahasiswa dari beberapa multidisiplin yakni Teknik Mesin, Teknik Elektro, Elektro Power, Elektro Telekomunikasi, Desain Produk, Desain Interior, Teknik Industri, Teknik Penerbangan, dan Teknik Material.

"Kemenangan ini menjadi sebuah harapan baru dalam pengembangan mobil listrik nasional. Prestasi ini akan terus dipertahankan dan dikembangkan hingga nantinya ajang ini bukan hanya kompetisi, tapi mewujudkan ide-ide menjadi kenyataan," jelasnya. 

Dia mengatakan, kunci keberhasilan tim ITB menjuarai kompetisi yang dimulai pada 1993 di Amerika Serikat itu adalah pelumasan yang baik pada kendaraan dan cara mengemudi. Mahasiswa jurusan Teknik Mesin ITB tingkat akhir itu berharap dukungan maksimal dari ITB dalam bimbingan teknis maupun pendanaan untuk mengirimkan peserta ke kompetisi SEM setiap tahun, karena selama ini mahasiswa berpartisipasi dalam kejuaraan tersebut secara swadaya. 

"Masa persiapan untuk merakit kendaraan membutuhkan waktu enam bulan, sedangkan setahun sebelumnya sudah mulai mencari sponsor. Untuk setiap unit mobil dibutuhkan biaya Rp60-80 juta," ujar Peter.

Selain ITB, tim dari Indonesia yang berjaya adalah tim Sadewa dari Universitas Indonesia (UI) pada kategori urban gasoline dengan konsumsi bahan bakar bensin 152 km/liter. Tim ITS 2 dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya dengan konsumsi bahan bakar biodiesel 167 km/liter yang menjadi juara dua kategori urban fame.

Pada kompetisi SEM, kendaraan hasil karya setiap tim mengelilingi sirkuit sebanyak empat putaran. Pemenang kejuaraan dari setiap kategori adalah tim yang mampu melaju dengan jarak terjauh menggunakan bahan bakar paling sedikit. (koran si)(//rfa) (sumber: okezone.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar