MENU

Translator

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Selasa, 03 Januari 2012

AWAS KERACUNAN KARBON MONOKSIDA

Sering kita mendengar terjadinya kematian di dalam mobil hal  ini disebabkan mobil tertutup 
rapat, sistem pergantian udara tidak lancar, mesin mobil dalam keadaan hidup atau jalan
sehingga pembuangan asap yang bocor masuk ke dalam mobil dan perlahanlahan terhirup oleh orang yang ada di dalam mobil. Salah satu senyawa kimia yang ada dalam asap hasil pembakaran tidak sempurna adalah  gas karbon monoksida (CO).


Sumber Gambar: klik



Bahaya karbon monoksida dapat juga terjadi di dalam garasi yang tertutup rapat kira-kira 10 menit. Untuk mencegah terjadinya keracunan, maka semua pintu dan jendela garasi harus 
terbuka bila mesin mobil sedang dihidupkan.

Namun waspadai racun karbon monoksida di rumah yag disebabkan oleh pemanas air di kamar mandi. Kematian desainer dan rekannya di Bandung mungkin bisa menjadi pelajaran.  

Karbon monoksida (CO) adalah gas tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa dan  tidak mengiritasi, mudah  terbakar dan sangat beracun.  Gas CO dapat berbentuk cairan pada suhu dibawah -129OC. Gas CO sebagian besar berasal dari pembakaran bahan fosil dengan udara, berupa gas buangan. Di kota besar yang padat lalu lintasnya akan banyak menghasilkan gas CO sehingga kadar CO dalam udara relatif tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. Selain itu dari gas CO dapat pula terbentuk dari proses industri. Secara alamiah gas CO juga dapat terbentuk, walaupun jumlahnya relatif sedikit, seperti gas hasil kegiatan gunung berapi, proses biologi dan lain-lain.


Gas Karbon monoksida merupakan bahan yang umum ditemui di  industri. Gas ini merupakan hasil pembakaran tidak sempurna dari kendaraan bermotor, alat pemanas, peralatan yang menggunakan bahan api berasaskan karbon dan nyala api (seperti tungku kayu), asap dari kereta api, pembakaran gas, asap tembakau. Namun sumber yang paling umum berupa residu pembakaran mesin. Banyak pembakaran yang menggunakan bahan bakar seperti alat pemanas dengan menggunakan minyak tanah, gas, kayu dan arang yaitu kompor, pemanas air, alat pembuangan hasil pembakaran dan lain-lain yang dapat menghasilkan karbon monoksida.   

Pembuangan asap mobil mengandung 9% karbon monoksida. Pada daerah yang macet tingkat bahayanya cukup tinggi terhadap kasus keracunan. Asap rokok juga mengandung gas CO,  pada orang dewasa yang tidak merokok biasanya terbentuk karboksi haemoglobin tidak lebih dari 1 % tetapi pada perokok  berat biasanya lebih tinggi yaitu 5 – 10 %. Pada wanita hamil yang merokok, kemungkinan dapat membahayakan janinnya.



Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang akan dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolisme, ikut bereaksi secara metabolisme dengan darah. Seperti halnya oksigen, gas CO bereaksi dengan darah (hemoglobin) :
Hemoglobin + O2 –> O2Hb (oksihemoglobin)
Hemoglobin + CO –>  COHb (karboksihemoglobin)
Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman kalau waktu kontak hanya sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm apabila dihisap manusia selama 8 jam akan menimbulkan rasa pusing dan mual. Pengaruh karbon monoksida (CO) terhadap tubuh manusia ternyata tidak sama dengan manusia yang satu dengan yang lainnya.
Konsentrasi gas CO disuatu ruang akan naik bila di ruangan itu ada orang yang merokok. Orang yang merokok akan mengeluarkan asap rokok yang mengandung gas CO dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm yang kemudian menjadi encer sekitar 400-5000 ppm selama dihisap. Konsentrasi gas CO yang tinggi didalam asap rokok menyebabkan kandungan COHb dalam darah orang yang merokok jadi meningkat. Keadaan ini sudah barang tentu sangat membahayakan kesehatan orang yang merokok. Orang yang merokok dalam waktu yang cukup lama (perokok berat) konsentrasi CO-Hb dalam darahnya sekitar 6,9%. Hal inilah yang menyebabkan perokok berat mudah terkena serangan jantung.

Karbon monoksida tidak mengiritasi tetapi  sangat berbahaya (beracun) maka gas CO dijuluki sebagai “silent killer” (pembunuh diam-diam).
  
Keberadaan gas CO akan sangat berbahaya jika terhirup oleh manusia karena gas itu akan 
menggantikan posisi oksigen yang berkaitan dengan haemoglobin dalam darah. Gas CO akan mengalir ke dalam jantung, otak, serta organ vital. Ikatan antara CO dan  heamoglobin membentuk karboksihaemoglobin  yang jauh  lebih kuat 200 kali dibandingkan dengan  ikatan antara oksigen dan haemoglobin. Akibatnya sangat fatal. 

Pertama, oksigen akan kalah bersaing dengan CO saat berikatan dengan molekul haemoglobin. Ini berarti kadar oksigen dalam darah akan  berkurang. Padahal seperti 
diketahui oksigen sangat diperlukan oleh sel-sel dan jaringan tubuh  untuk melakukan 
fungsi metabolisme. Kedua, gas CO akan menghambat komplek oksidasi sitokrom. Hal ini menyebabkan respirasi intraseluler menjadi kurang efektif.  Terakhir, CO dapat berikatan secara langsung dengan sel otot jantung dan tulang. Efek paling serius adalah terjadi keracunan secara langsung terhadap sel-sel tersebut, juga menyebabkan gangguan pada sistem saraf.

Bahaya utama terhadap kesehatan adalah mengakibatkan  gangguan pada  darah, Batas 
pemaparan karbon monoksida yang diperbolehkan oleh OSHA (Occupational Safety and Health Administration) adalah 35 ppm  untuk waktu 8 jam/hari kerja, sedangkan yang diperbolehkan oleh ACGIH TLV-TWV adalah 25 ppm untuk waktu 8 jam.  Kadar yang dianggap langsung berbahaya  terhadap kehidupan atau kesehatan  adalah 1500 ppm 0,15%). Paparan dari 1000 ppm (0,1%) selama beberapa menit dapat menyebabkan 50% 
kejenuhan dari karboksi hemoglobin dan dapat berakibat fatal.)
  
Keracunan gas karbon monoksida gejala didahului dengan  sakit kepala, mual, muntah, rasa lelah, berkeringat banyak, pyrexia, pernafasan meningkat,  confusion, gangguan penglihatan, kebingungan, hipotensi, takikardi, kehilangan kesadaran dan sakit dada mendadak juga dapat muncul pada orang yang menderita nyeri dada. Kematian kemungkinan disebabkan karena sukar bernafas dan edema paru. Kematian akibat keracunan karbon monoksida disebabkan oleh kurangnya oksigen pada tingkat seluler (seluler hypoxia). Sel darah  tidak hanya mengikat oksigen melainkan juga gas lain.


Kemampuan atau daya ikat ini berbeda untuk satu gas dengan gas lain. Sel darah merah mempunyai ikatan yang lebih kuat terhadap karbon monoksida (CO) dari pada oksigen (O2). Sehingga kalau terdapat CO dan O2, sel darah merah akan cenderung berikatan dengan CO.
Bila terhirup, karbon monoksida akan berikatan dengan Haemoglobin (Hb) dalam darah 
membentuk Karboksihaemoglobin sehingga oksigen tidak dapat terbawa. Ini disebabkan karbon monoksida dapat mengikat 250 kali lebih cepat dari oksigen. Gas ini juga dapat 
mengganggu aktifitas seluler lainnya yaitu dengan mengganggu  fungsi organ yang 
menggunakan sejumlah besar oksigen seperti otak dan jantung. Efek paling serius adalah terjadi keracunan secara langsung terhadap sel-sel otot jantung, juga menyebabkan 
gangguan pada sistem saraf.

Gejala-gejala klinis dari saturasi darah oleh karbon monoksida 
Gejala-gelala klinis bila darah keracunan gas karbon monoksida dapat dilihat pada tabel

Konsentrasi CO dalam DarahGejala-gejala
 - Kurang  dari 20%  - Tidak ada gejala 
 - 20%   - Nafas menjadi sesak
 - 30%  - Sakit kepala, lesu, mual, nadi dan pernafasan sedikit meningkat
 - 30% – 40%  -Sakit kepala berat, kebingungan, hilang  daya ingat, 
lemah, hilang daya koordinasi gerakan  
 - 40% - 50% - Kebingungan makin meningkat, setengah sadar 
 - 60% - 70% - Tidak sadar, kehilangan daya  mengontrol faeces dan 
urin
 - 70% - 89% - Koma, nadi menjadi tidak teratur, kematian karena 
kegagalan pernafasan
  
Pertolongan pertama keracunan 
Bila terjadi keracunan gas  karbon monoksida, maka untuk  pertolongan pertama adalah segera bawa korban ke tempat yang jauh  dari sumber karbon  monoksida, longgarkan pakaian korban supaya  mudah bernafas. Pastikan korban masih bernafas dan segera berikan oksigen murni. Korban harus istirahat dan usahakan  tenang. Meningkatnya gerakan otot menyebabkan meningkatnya kebutuhan oksigen, sehingga persediaan oksigen untuk otak dapat berkurang. Segera bawa ke rumah sakit terdekat. 



Siapa yang beresiko keracunan karbon monoksida 
  • Kasus kematian akibat kebakaran gedung atau bangunan disebabkan karena keracunan CO
  • oleh karena itu petugas pemadam kebakaran merupakan yang beresiko tinggi mendapat keracunan CO 
  • Pengecat  yang menggunakan cat  yang mengandung  metilin klorida, asapnya mudah diserap melalui paru-paru  dan mudah masuk ke peredaran darah,  metilin klorida ditukar ke karbon monokisida di hati. 
  • Perokok adalah salah  satu kelompok yang beresiko keracunan CO karena asap tembakau merupakan salah satu sumber CO.
  • Bayi, anak-anak dan mereka yang mengalami masalah kardiovaskuler lebih mudah beresiko keracunan karbon monoksida, walaupun pada kepekatan yang rendah. 


Tip - tip mencegah keracunan karbon monoksida 

  • Pastikan peralatan dipasang dan dioperasikan sesuai dengan instruksi pabrik. Kebanyakan peralatan harus dipasang orang yang profesional. Kalau memiliki pemanas, rajin-rajinlah memeriksa dan servis setiap tahun. 
  • Jangan mengoperasikan generator portabel atau mesin dengan bahan bakar bensin dalam ruang tertutup.
  • Pasang alarm CO yang memenuhi persyaratan standar keselamatan. 
  • Jangan pernah membakar arang di ruang tertutup. Waspada pembakaran tak sempurna dari kompor gas.
  • Jangan pernah meninggalkan mobil hidup di garasi meski pintu garasi terbuka.
  •  Buatlah ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara di rumah serta konsultasikan dengan ahli.
  • Periksa semua saluran rumah yang bukaanya menghadap ke luar rumah (pemanas air dsb) setiap tahun untuk memastikan saluran pengeluaran tidak tersumbat.
  • Periksa sistem AC mobil saudara untuk memeriksa kebocoran yang mungkin terjadi 
  • Periksa pemanas air, pastikan bukaanya sempurna dan saluran tidak bocor. 
  • Jangan nyalakan mobil di dalam garasi  yang tertutup rapat 
Sumber:
http://www.pom.go.id/public/siker/desc/produk/RacunKarMon.pdf
http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_lingkungan/karbonmonoksida-dan-dampaknya-terhadap-kesehatan/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar