MENU

Translator

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Jumat, 17 Februari 2012

Suku Bajau Laut - Masyarakat Dunia Air Sejati

Suku Bajau adalah suku bangsa yang tanah asalnya Kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Suku ini merupakan suku nomaden yang hidup di atas laut, sehingga disebut gipsi laut. Suku Bajau menggunakan bahasa Sama-Bajau. Suku Bajau sejak ratusan tahun yang lalu sudah menyebar ke negeri Sabah dan berbagai wilayah Indonesia. Suku Bajau juga merupakan anak negeri di Sabah. Suku-suku di Kalimantan diperkirakan bermigrasi dari arah utara (Filipina) pada zaman prasejarah. Suku Bajau yang Muslim ini merupakan gelombang terakhir migrasi dari arah utara Kalimantan yang memasuki pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Selatan dan menduduki pulau-pulau sekitarnya, lebih dahulu daripada kedatangan suku-suku Muslim dari rumpun Bugis yaitu suku Bugis, suku Makassar, suku Mandar.


Wilayah yang terdapat suku Bajau, antara lain :
1. Kalimantan Timur (Berau, Bontang, dan lain-lain)
2. Kalimantan Selatan (Kota Baru) disebut orang Bajau Rampa Kapis
3. Sulawesi Selatan (Selayar)
4. Sulawesi Tenggara
5. Nusa Tenggara Barat
6. Nusa Tenggara Timur (pulau Komodo)
7. Sapeken, Sumenep
8. dan lain-lain

Salah satu suku laut terbesar di Indonesia adalah suku Bajau, sampai sekarang tidak diketahui secara pasti asal suku ini. Beberapa sumber menyebutkan Masyarakat Bajau dari kepulauan Sulu di Filipina selatan, kepulauan Riau ataupun kepulauan Maluku.
Terkenal sebagai suku laut karena suku Bajau menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas laut. Mereka adalah para penjelajah lautan sama seperti suku Tar-Tar yang berpindah-pindah mengikuti cuaca yang baik. Masyarakat Bajau juga berpindah mengikuti cuaca. Mereka ke darat hanya mencari kebutuhan dapur, bahan bakar, menjual hasil tangkapan ikan dan memperbaiki perahu, selebihnya di habiskan di lautan.

Asal Mula Suku Bajau
Beberapa kemungkinan asal muasal Suku Bajau :
  • Sulu, Filipina. Suku-suku di Kalimantan berasal dariFilipinayang berpindah padamasa prasejarah. Bajau muslim merupakan suku terakhir yang berpindah dari utara Kalimantan ke pesisir Kalimantan selatan, Kalimantan timur dan pulau-pulau sekitarnya. 
  • Kepulaun Riau. Suku Bajau datang dari Riau karena mengikuti pendakwah muslim dan berkembang serta menyebar sampai ke Kalimantan dan Sulawesi. 
  • Barat daya semenanjung Sulawesi. Masyarakat Bajau banyak bermukim disekitar pemukiman Bugis dan Makasar. Dari teluk Bone ke selat Tiara dan Butung, pulau Wowoni dan teluk Kendari, serta kepulauan Sabalangka dan teluk Tomori adalah daerah  jelajahan suku Bajau. 
  • Yunan. Bajau merupakan salah satu suku dari generasi Melayu Deutro dari rasMalayan Mongoloid (Melayu muda yang datang dari Yunan ke Asia Tenggara).Suku Bajau menyebar disekitar Asia Tenggara. 
Kehidupan Suku Bajau
Masyarakat Bajau menyebar dari kepulauan Riau, Jambi, Sabah, Malaysia, Maluku,Sulawesi, NTT, pulau Komodo. Selain di Indonesia dan Malaysia mereka juga berada di Thailand, Vietnam, Brunai, Myanmar, Maldives, Afrika Selatan. Beberapa pendapat mengatakan bahwa penduduk melayu di Madagaskar adalah keturunan suku Bajau.
Wong Kambang, Waju, Turijene merupakan sebutan bagi suku Bajau. Karena hidup mereka di laut, orang-orang Bajau ini adalah perenang dan penyelam yang handal.Mereka dididik dari belia untuk mengenal laut dan menggunakan harpoon (semacam tombak ikan). Suku Bajau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Sama-Bajau (terdapat lebih dari 20 macam dialek bahasa Bajau).

Baju Adat

Rumah Adat

Suku Bajau terbagi ke dalam dua kelompok suku yaitu Bajau laut (Pala'u atau Pela'u) dan Bajau darat (Samah). Bajau Samah merupakan pemeluk agama Islam. Sedangkan Bajau laut memeluk berbagai macam agama, diantaranya Islam, Kristen dan tidak beragama.


Sampai saat ini sangat sulit mengetahui populasi masyarakat Bajau. Kehidupannya yang selalu berpindah-pindah inilah, susah menaksir jumlah mereka.


Bajau Laut/ Pela'u

Secara politis, suku Bajau Pela’u tidak memiliki kewarganegaraan. Walaupun dikatakan asal usul mereka dari Sulu Philipina namun mereka bukan warga negara Phillipina. Mereka tidak pernah menetap di satu wilayah dan senantiasa berputar melalui jalur-jalur laut antara Philipina, Malaysia dan Indonesia.
Angkatan Laut Diraja Malaysia pernah membuatkan semacam surat keterangan identitas namun itu tidak lantas membuat mereka mendapat pengakuan sebagai warga negara Malaysia.  Selama dua tahun ini mereka hanya berputar di sekitar perairan Batu Putih Kalimantan Timur hingga Kepolisian Resort Berau membawa mereka ke Tanjung Redeb, ibukota Kabupaten Berau.
Suku ini merupakan kelompok masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi, yang kehidupan umum-nya berlangsung di laut. Bahkan mereka lahir-pun di laut. Suku Bajau juga termasuk kelompok etnis yang masih berada dalam kondisi ekonomi, sosial dan budaya yang belum berkembang. Di antara mereka ada yang masih hidup secara primitif dan bertempat tinggal di atas perahu kecil bersama istri, anak-anak serta anggota keluarga lainnya. Namun tidak semua orang Bajau hidup seperti itu.
Orang Bajau percaya bahwa laut itu berpenghuni, di sana ada semua ciptaan Tuhan, sehingga orang Bajau selalu berhati-hati kalau turun ke laut. Mereka juga menempatkan unsur api, angin, tanah, dan air sebagai nilai sakral tinggi. Keempat unsur ini merupakan cerminan empat unsur penting lainnya, yaitu tubuh, hati, nyawa, dan manusia.


Sejak lahir, laut adalah 'bagian dari mereka' - rumah mereka, pekerjaan mereka dan sumber makanan mereka. Orang mati dikubur di tanah, jauh dari komunitas yang hidup. 

Bajau-Laut adalah master penyelam tanpa SCUBA turun hingga 30 meter tanpa alat bernafas atau freediving  atau apnea (bahasa Yunani yang artinya menahan nafas) untuk mencari ikan, teripang dan mutiara. (Master Penyelam tradisional lain adalah wanita-wanita Jepang  atau Ama diver).


Mereka ditemukan baik dalam permanen atau dalam masyarakat nelayan musiman. Perjalanan sebagai sebuah keluarga, mereka sering bergerak di antara masyarakat nelayan tetap dan musiman.


Masyarakat Bajau sehari-hari hidup di atas leppa/ lepa-lepa (rumah-rumah perahu) sebagai suku kembara di lautan bebas. Seorang tua Bajau berkias: “Kami berasal dari laut, di darat kami tidak bahagia...seperti ikan yang harus tinggal di darat.” Dengan kemampuan alami bertahan lama di dalam air saat menyelam, orang Bajau mengumpulkan hasil laut dari berbagai kedalaman, mulai dari teripang hingga mutiara.


Diantarkan ke pulau seberang’ sudah menjadi sinonim untuk sebuah sesi berbicara di atas lepa-lepa, mengenang masa lalu mengarungi laut untuk mengunjungi pulau-pulau atau ke Tawalingsi (sekarang Filipina).


Berikut ini Video dari BBC Human Planet series yang memperlihatkan kemampuan suku  Bajau menyelam freediving tradisional untuk menombak seekor ikan.







Freediving
Free diving itu adalah segala aktivitas akuatik yang mengharuskan menahan nafas waktu di dalam air. Bisa saat snorkeling-an, spearfishing, underwater photography, underwater hockey, underwater rugby, mermaid show, competitive free diving dan lain-lain selama menahan nafas di dalam air.

Saat ber-free diving yang kita perlukan hanyalah kemampuan menahan nafas kita saat di dalam air berbeda dengan SCUBA (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus) diving yang bergantung pada tanki udara untuk bernafas.
Free diving mungkin adalah salah satu olahraga extreme tertua yang pada awalnya tentu bertujuan untuk mencari makanan di dalam laut

Pada dasarnya manusia bisa menahan nafas cukup lama, tinggal diasah saja kemampuan itu dengan latihan dan tehnik yang tepat. Manusia memiliki mammalian diving reflex yakni kemampuan yang akan aktif begitu ketika masuk ke dalam air. Salah satu contohnya adalah perbedaan durasi saat kita menahan nafas di darat dan di dalam air, silahkan coba sendiri (tapi harus didampingi buddy yah). Untuk rekor Static Apnea terlama masih dipegang oleh St├ęphane Mifsud yaitu 11 menit 35 detik  dan William Trubridge mampu menyelam sampai kedalaman 101 meter dengan satu kali tarikan nafas.







 Berbagai Sumber:
http://www.mindtalk.com
http://www.gedungdua8.com
http://www.youtube.com
http://siswa.univpancasila.ac.id
etc.


BAJAU, INDONESIAN: a language of Indonesia (Sulawesi)





Population50,000 (1977 Pallesen SIL) including 25,000 in central Sulawesi (1979 D. Barr), 8,000 to 10,000 in south Sulawesi (1983 C. Grimes), 5,000 or more in north Maluku (1982 C. Grimes), several thousand in Nusa Tenggara (1981 Wurm and Hattori). 
RegionIn south Sulawesi in Selayar, Bone, and Pangkep districts. On the east coast of southeast Sulawesi on Wowonii, Muna, northern Buton, Kabaena, and northern Tukangbesi islands. Widely distributed throughout Sulawesi, north Maluku (Bacan, Obi, Kayoa, and Sula islands), Kalimantan, and the islands of the East Sunda Sea. Other Bajau languages are in Sabah, Malaysia, and the southern Philippines.
Alternate names  BADJAW, BADJO, BAJO, BAJAO, BAYO, GAJ, LUAAN, LUTAOS, LUTAYAOS, SAMA, ORANG LAUT, TURIJE'NE'
DialectsJAMPEA, SAME', MATALAANG, SULAMU, KAJOA, ROTI, JAYA BAKTI, POSO, TONGIAN 1, TONGIAN 2, WALLACE.
ClassificationAustronesian, Malayo-Polynesian, Western Malayo-Polynesian, Sama-Bajaw, Sulu-Borneo, Borneo Coast Bajaw.
CommentsVigorous in north Maluku. Known as Bayo and Turijene in the language of Macassar. Known as Bajo in Buginese. It may include several languages. There are schools in some villages. They live in houses on stilts over water. Investigation needed: intelligibility with dialects. Coastal inlets, islands, reefs, sand bars. Seamen. Muslim, traditional religion.

1 komentar: